12. Makalah : Teori Pembangunan & Perubahan Sosial
TUGAS
KULIAH I
TEORI
PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ........................................................................................................ BAB I MAKNA PERUBAHAN
A.
Perubahan merupakan
pergeseran................................................................
B.
Perubahan merupakan
fenomena Global......................................................
C.
Perubahan merupakan
Transformasi.............................................................
D.
Perubahan adalah
membuat sesuatu menjadi berbeda.................................
BAB II NILAI HAKIKI DARI PERUBAHAN BAGI ORGANISASI
A.
Perubahan merupakan
ciri hakiki..................................................................
B.
Hidup dan perubahan
tidak terpisahkan......................................................
C.
Menolak perubahan,
menolak kehidupan.....................................................
D.
Situasi dan
lingkungan organisasi.................................................
E.
Organisasi harus
peka terhadap perubahan...................................
F.
Diperlukan karyawan
yang inovatif, kreatif, adaptip
G.
Komitmen tinggi
(Menerima organisasi apa adanya),..................................
BAB
I
MAKNA
PERUBAHAN
A. Perubahan
merupakan pergeseran dari keadaan sekarang menuju ke keadaan lebih baik yang
diinginkan dimasa depan (Potts dan La Marsh, (2004;36)
Perubahan sosial secara
umum dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran
atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola pikir
yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan
penghidupan yang lebih bermartabat.
Perubahan
sosial mempunyai 3 unsur Competensi yaitu :
*)
Knowledge *)Skill *)Attitude
Contoh kasus:
Kenapa
orang membuang sampah sembarangan?
Jawab
: Karena fasilitas kurang memadai, tidak ada adanya sarana dan prasarana tempat
pembuangan sampah.
Sikap
manusia dalam melakukan perubahan sosial dipengaruhi oleh :
|
-Kognisi
(akal/Pikiran)
|
Ukurannya Logika
Beripikir sebab/akibat
Sifatnya : Obyektif
|
|
Afeksi
(Rasa)
|
Ukurannya Emosi
Penilainya cenderung SUBYEKTIF
|
|
Konasi
(Psikomotorik)
|
Keterampilan.
|
|
Macam-macam PERUBAHAN
|
Sifatnya
|
Contoh:
|
|
1.
Tranformasi
|
Permanent
|
Muda menjadi tua
|
|
2.
Transisi
|
Sementara
|
Kebiasaan merokok menjadi tidak
merokok
|
|
3.
NISCAYA
|
Tidak dapat dihindari
|
|
|
4.
Disengaja :
Tidak disengaja :
|
|
-Perubahan Struktural.
-Impor ilegal
-Media sosial
-MEA/ Perdagangan bebas
-Tenaga Kerja Cina
|
Pengertian perubahan sosial menurut
para ahli:
a. William
F. Ogburn mengemukakan bahwa “ruang lingkup perubahan-perubahan
sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang
immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan
material terhadap unsur-unsur immaterial”.
b. Kingsley
Davis mengartikan “perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan
yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat”.
c. Mac
Iver mengatakan “perubahan-perubahan sosial merupakan sebagai
perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai
perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial”.
Faktor-faktor Perubahan Sosial
1. Faktor
Penyebab
Perubahan
sosial dalam kehidupan masyarakat terjadi karena masyarakat tersebut
menginginkan perubahan. Perubahan juga dapat terjadi karena adanya dorongan
dari luar sehingga masyarakat secara sadar ataupun tidak akan mengikuti
perubahan.
Perubahan
berasal dari dua sumber yaitu faktor acak dan faktor sistematis.
Faktor
acak meliputi iklim, cuaca, atau karena adanya kelompok-kelompok tertentu.
Faktor
sistematis adalah faktor perubahan sosial yang disengaja dibuat.
Keberhasilan
faktor sistematis ditentukan oleh pemerintahan yang stabil dan fleksibel,
sumber daya yang cukup, dan organisasi sosial yang beragam. Jadi, perubahan
sosial biasanya merupakan kombinasi dari faktor sistematis dengan beberapa
faktor acak.
Menurut
Soerjono Soekanto, adanya faktor-faktor intern (dari dalam masyarakat) dan
ekstern (dari luar masyarakat) yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial
dalam masyarakat. Faktor intern meliputi perubahan penduduk, penemuan-penemuan
baru, konflik dalam masyarakat, dan pemberontakan (revolusi) dalam tubuh
masyarakat. Sedangkan faktor ekstern meliputi faktor alam yang ada di sekitar
masyarakat berubah, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
2. Faktor
Pendorong
Faktor
pendorong perubahan sosial adalah faktor yang mempercepat perubahan sosial.
Faktor tersebut meliputi kontak dengan masyarakat lain, difusi (penyebaran
unsur-unsur kebudayaan) dalam masyarakat, difusi antar masyarakat, sistem
pendidikan yang maju, sikap ingin maju, toleransi, sistem stratifikasi
(lapisan) sosial terbuka, penduduk yang heterogen (bermacam-macam),
ketidakpuasan terhadap kondisi kehidupan, orientasi ke masa depan, nilai yang
menyatakan bahwa manusia harus berusaha memperbaiki nasibnya, disorganisasi
(pertikaian) dalam keluarga), dan sikap mudah menerima hal-hal baru.
3. Faktor
Penghambat
Perubahan
sosial tidak akan selalu berjalan mulus. Perubahan sosial seringkali dihambat
oleh beberapa faktor penghambat perubahan sosial. Faktor tersebut meliputi
kurangnya hubungan dengan masyarakat yang lain, perkembangan ilmu pengetahuan
yang terhambat, sikap masyarakat yang tradisional, adat atau kebiasaan,
kepentingan-kepentingan yang tertanam kuat sekali, rasa takut akan terjadinya
disintegrasi (meninggalkan tradisi), sikap yang tertutup, hambatan yang
bersifat ideologis, dan hakikat hidup.
B.
Perubahan merupakan fenomena global yang sulit dihindari,
termasuk terhadap organisasi (Pasmore,1994:3)
Perubahan berarti bahwa kita harus mengubah
dalam cara mengerjakan atau berfikir tentang sesuatu yang dapat menjadi mahal
dan sulit (Pasmore, 1994:3). Perubahan sudah merupakan fenomena global yang
tidak bisa dibendung. Beberapa kejadian yang dihadapi organisasi antara lain
adalah restrukturisasi. Merger, divestasi dan akuisisi, penurunan kesempatan
kerja dan ekspansi internasional dengan segala konsekuensinya. Banyak
organisasi yang pernah jaya beberapa puluh tahun yang lalu sekarang hilang
tinggal menjadi kenangan. Tidak ada satu organisasi pun yang kebal terhadap
perubahan. Organisasi akan tenggelam apabila tidak bersedia menyesuaikan diri
dengan perkembangan lingkungan sejalan dengan perjalanan waktu. Kebanyakan
organisasi yang berhasil adalah mereka yang fokus pada mengerjakan apa saja
yang menerima perubahan kondisi. Organisasi yang sukses dalam mendapatkan,
menanamkan, dan menerapkan pengetahuan yang dapat dipergunakan untuk membantu
menerima perubahan dinamakan Learning Organization. Sebuah Learning
Organization terampil dalam mencoba pendekatan baru dalam mengembangkan konsep,
gagasan, dan merencanakan serta dalam mengoprasionalkannya. Perubahan
organisasional bukanlah proses sederhana.
C.
Perubahan merupakan transformasi yang terencana atau
tidak terencana dalam struktur organisasi, teknologi dan atau orang (Greenberg
dan Baron,2003;590).
Perubahan Terencana
dan Tidak Terencana
Perubahan
adalah membuat sesuatu menjadi berbeda. Perubahan dapat merupakan perubahan
terencana (planned change) atau perubahan tidak terencana (unplanned change).
Perubahan dapat terjadi pada kegiatan yang bersifat rutin dan kontinue, namun
yang lebih penting adalah pada kegiatan yang sifatnya strategis yang tidak
terjadi berulang-ulang. Dengan demikian, yang dimaksud dengan planned change
adalah aktivitas perubahan yang disengaja dan berorientasi pada tujuan
(Robbins, 2001:542). Sementara itu, Greenberg dan Baron (2003:593) menyatakan
sebagai aktivitas yang dimaksudkan dan sifatnya sengaja dan dirancang untuk
memenuhi beberapa tujuan organisasional. Perubahan organisasional berasal dari
sebuah keputusan strategis untuk mengubah cara organisasi mengerjakan usahanya.
Perubahan organisasional dapat diidentifikasi sebagai perubahan produk atau
jasa, perubahan ukuran dan struktur organisasi, perubahan system administratif,
dan memperkenalkan teknologi baru. Sementara itu, unplanned change atau
perubahan tidak terencana merupakan pergeseran aktivitas organisasional karena
adanya kekuatan yang sifatnya eksternal, yang berada di luar kontrol organisasi
(Greenberg dan Baron, 1997:550). Determinan dari suatu perubahan tidak
terencana dari suatu organisasi antara lain karena organisasi terpaksa menerima
pergeseran dalam tampilan demografis angkatan kerja. Mereka juga harus
responsif terhadap kecenderungan globalisasi. Kekuatan lain adalah karena
adanya peraturan pemerintah, persaingan ekonomi, dan perbedaan kinerja.
D.
Perubahan adalah membuat sesuatu menjadi berbeda
(Robbins, 2001:542).
Tujuan perubahan terencana disatu sisi untuk
memperbaiki kemampuan organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
lingkungan dan disisi lain mengupayakan perubahan perilaku karyawan (Robbins,
2001:542). Kebanyakan para ahli lebih banyak membahas lingkungan internal,
namun sebenarnya yang lebih banyak pengaruhnya terhadap masa depan organisasi
adalah lingkungan eksternal. Kurt Motamendi mencari hubungan antara kedua
lingkungan tersebut dalam konsep yang disebut Adaptabilitas dan Kopabilitas
(Bennis, 1920:217). Adaptabilitas adalah kemampuan sebuah organisasi untuk
merasa dan memahami baik lingkungan internal maupun lingkungan eksternalnya dan
mengambil tindakan untuk menciptakan kecocokan atau keseimbangan yang lebih
baik antara kedua lingkungan tersebut. Sementara itu, Kapabilitas mengacu pada
kemampuan suatu system sosial untuk mempertahankan identitas dan integritasnya
sebagai sebuah system yang kuat sambil melakukan penyesuaian yang diperlukan
dengan lingkungan eksternalnya yang berubah.
Dewasa ini timbul kekuatan yang mendorong perubahan,
termasuk perubahan besar dalam organisasi sehingga memerlukan transformasi
melalui upaya-upaya reengineering, restructuring, quality programs, margers and
acquisition, strategic change, dan cultural change (Kotter, 1996:19).
Namun, diingatkan bahawa perubahan harus dilakukan
dengan hati-hati dengan pertimbangan agar manfaat yang ditimbulkan oleh perubahan
lebih besar dari beban kerugian yang harus ditanggung (Greenberg dan Baron,
2003:604). Kebanyakan diantara kita sering lupa memperhitungkan sosial kosts
sebagai akibat perubahan.
2. Sasaran
Perubahan
Menurut Potts dan LaMarsh (2004:37) yang mengemukakan
adanya empat aspek sasaran perubahan, di mana dua diantaranya sama dengan
Robbins maupun Greenberg dan Baron, yaitu struktur dan orang. Dua aspek lainnya
adalah proses dan budaya. Proses menunjukkan apakah aliran pekerjaan dalam
seluruh organisasi sudah berjalan secara efesien; apakah terjadi hambatan dan
memperlambat aliran pekerjaan. Apabila terdapat satu butir pesanan pelanggan
tidak bersedia, apakah akan menunda pengiriman seluruh pesanan ? Budaya
menyangkut budaya organisasi, apakah kepercayaan pekerja tentang pekerjaan,
pelanggan dan bisnis pada umumnya menganggu keberhasilan. Apakah kepercayaan
ini menyebabkan orang berperilaku yang dapat menghambat keberhasilan? Dengan
demikian, sasaran atau objek suatu perubahan dapat diarahkan pada struktur
organisasi, teknologi, pengaturan fisik, proses, orang dan budaya dalam suatu
organisasi. Namun, sasaran perubahan tersebut pada umumnya tidak berdiri
sendiri, tetapi merupakan kombinasi karena di antaranya saling mempengaruhi.
BAB II
NILA
HAKIKI DARI PERUBAHAN BAGI ORGANISAI
- Perubahan merupakan ciri hakiki, menunjukan organisasi masih hidup
Secara garis besar faktor penyebab terjadinya perubahan dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu:
- Faktor ekstern,
- Faktor intern.
Faktor Ekstern
Adalah penyebab perubahan yang berasal dari
luar, atau sering disebut lingkungan. Organisasi bersifat responsive terhadap
perubahan yang terjadi di lingkungannya. Oleh karena itu, jarang sekali suatu
organisasi melakukan perubahan besar tanpa adanya dorongan yang kuat dari
lingkungannya. Artinya, perubahan yang besar itu terjadi karena lingkungan
menuntut seperti itu. Beberapa penyebab perubahan organisasi yang termasuk
faktor ekstern adalah perkembangan teknologi, faktor ekonomi dan peraturan
pemerintah.
Perkembangan dan kemajuan teknologi juga merupakan penyebab penting
dilakukannya perubahan. Penggantian perlengkapan lama dengan perlengkapan baru
yang lebih modern menyebabkan perubahan dalam berbagai hal, misalnya: prosedur
kerja, kualitas dan kuantitas tenaga kerja, jenis bahan baku, jenis output yang
dihasilkan, system penggajian yang diberlakukan yang memungkinkan jumlah
bagian-bagian yang ada dikurangi atau hubungan pola kerja diubah karena adanya
perlengkapan baru.
Perkembangan IPTEK terus berlanjut sehingga setiap saat ditemukan berbagai
produk teknologi baru yang secara langsung atau tidak memaksa organisasi untuk
melakukan perubahan. Organisasi yang tidak tanggap dan bersedia menyerap
berbagai temuan teknologi tersebut akan tertinggal dan pada gilirannya tidak akan
sanggup survive.
Faktor Intern
Adalah penyebab perubahan yang berasal dari dalam organisasi
yang bersangkutan, yang dapat berasal dari berbagai sumber antara lain:
- Problem
hubungan antar anggota,
- Problem
dalam proses kerja sama,
- Problem
keuangan.
Hubungan antar anggota yang kurang harmonis merupakan salah satu problem
yang lazim terjadi. Dibedakan menjadi dua, yaitu: problem yang menyangkut
hubungan atasan bawahan (hubungan yang bersifat vertikal), dan problem yang
menyangkut hubungan sesama anggota yang kedudukannya setingkat (hubungan yang
bersifat horizontal). Problem atasan bawahan yang sering timbul adalah problem
yang menyangkut pengambilan keputusan dan komunikasi. Keputusan pimpinan yang berkenaan
dengan system pengupahan, misalnya dianggap tidak adil atau tidak wajar oleh
bawahan, atau putusan tentang pemberlakuan jam kerja yang dianggap terlalu
lama, dsb. Hal ini akan menimbulkan tingkah laku anggota yang kurang
menguntungkan organisasi, misalnya anggota sering terlambat. Komunikasi atasan
bawahan juga sering menimbulkan problem. Keputusannya sendiri mungkin baik
tetapi karena terjadi salah informasi, bawahan menolak keputusan pimpinan.
Dalam hal seperti ini perubahan yang dilakukan akan menyangkut system saluran
komunikasi yang digunakan.
Problem yang sering timbul berkaitan dengan hubungan sesame anggota
organisasi pada umumnya menyangkut masalah komunikasi dan kepentingan
masing-masing anggota.
Proses kerja sama yang berlangsung dalam organisasi juga kadang-kadang
merupakan penyebab dilakukannya perubahan. Problem yang timbul dapat menyangkut
masalah system kerjasamanya dan dapat pula menyangkut perlengkapan atau
peralatan yang digunakan. Sistem kerja sama yang terlalu birokratis atau sebaliknya
dapat menyebabkan suatu organisasi menjadi tidak efisien. System birokrasi
(kaku) menyebabkan hubungan antar anggota menjadi impersonal yang mengakibatkan
rendahnya semangat kerja dan pada gilirannya produktivitas menurun, demikian
sebaliknya. Perubahan yang harus dilakukan akan menyangkut struktur organisasi
yang digunakan.
Perlengkapan yang digunakan dalam mengolah input menjadi output juga dapat
merupakan penyebab dilakukannya perubahan. Tujuan penggunaan berbagai
perlengkapan dan peralatan dalam proses kerjasama ialah agar diperoleh hasil
secara efisien.
Proses Perubahan
Perubahan Organisasi merupakan modifikasi substantif pada beberapa bagian
organisasi. Perubahan itu dapat melibatkan hampir semua aspek dari organisasi,
seperti jadwal pekerjaan, dasar untuk departementalisasi, rentang manajemen,
mesin-mesin, rancangan organisasi, dan sebagainya.
Dorongan untuk Berubah
Alasan mendasar organisasi memerlukan perubahan adalah karena sesuatu yang
relevan bagi organisasi telah berubah, atau akan berubah. Oleh sebab itu,
organisasi tidak punya pilihan lain kecuali berubah juga. Perubahan ini terjadi
karena adanya dorongan untuk berubah, yang berasal dari:
1. Dorongan Eksternal
Dorongan eksternal
yang mendorong organisasi untuk mengadakan perubahan berasal dari lingkungan
umum organisasi. Adanya aturan baru dalam produksi dan persaingan, politik,
hukum baru, keputusan pengadilan, dan sebagainya akan mempengaruhi organisasi.
Disamping itu, berbagai dimensi seperti teknologi, ekonomi dan sosiokultural
juga mempengaruhi organisasi untuk melakukan perubahan.
2. Dorongan Internal
Pada dasarnya dorongan internal berasal dari dalam organisasi itu sendiri.
Adanya revisi strategi organisasi oleh manajemen puncak, akan menghasilkan
perubahan organisasi. Dorongan internal lainnya mungkin direfleksikan oleh
dorongan eksternal. Misalnya, sikap pekerja terhadap pekerjaannya akan
bergeser, seiring bergesernya nilai sosiokultural.
Akibatnya mereka menuntut suatu perubahan dalam jam kerja, atau perubahan
kondisi kerja.
Dua Jenis Perubahan
Secara umum ada dua
jenis perubahan dalam organisasi.
1. Perubahan Terencana
Perubahan terencana
adalah perubahan yang dirancang dan diimplementasikan secara berurutan dan
tepat waktu sebagai antisipasi dari peristiwa di masa mendatang.
2. Perubahan Reaktif
Perubahan reaktif
adalah suatu respon bertahap terhadap peristiwa ketika muncul.
Langkah-langkah
komprehensif dalam proses perubahan
Ada tujuh langkah
komprehensif yang ditempuh dalam proses perubahan organisasi. Langkah-langkah
tersebut yaitu:
1. Mengenali
kebutuhan akan perubahan
2. Menetapkan
tujuan perubahan
3. Mendiagnosis
apa yang menyebabkan perlunya dilakukan perubahan
4. Memilih
teknik perubahan yang sesuai untuk mencapai tujuan
5. Merencanakan
implementasi untuk perubahan
6. Mengimplementasikan
perencanaan perubahan
7. Mengevaluasi
perubahan dan tindak lanjut
Ciri-ciri
Pengembangan Organisasi
Pengembangan
organisasi yang efektif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Merupakan
strategi terencana dalam mewujudkan perubahan organisasional, yang memiliki
sasaran jelas berdasarkan diagnosa yang tepat dan akurat tentang permasalahan
yang dihadapi oleh suatu organisasi.
2. Merupakan
kolaborasi antara berbagai pihak yang akan terkena dampak perubahan yang akan
terjadi terhadap suatu organisasi.
3. Menekankan
cara-cara baru yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja seluruh organisasi
dan semua satuan kerja dalam organisasi.
4. Mengandung
nilai humanistik dimana pengembangan potensi manusia menjadi bagian terpenting.
5. Menggunakan
pendekatan komitmen sehingga selalu memperhitungkan pentingnya interaksi,
interaksi dan interdependensi antara organisasi sau dengan organisasi yang
lainnya.
6. berbagai
satuan kerja sebagai bagian integral di suasana yang utuh.
7. Menggunakan
pendekatan ilmiah dalam upaya meningkatkan efektivitas organisasi.
Apabila selama ini kita hanya mengenal pembelajaran pada tingkat individu
dan kelompok, maka perkembangan manajemen telah mengenal pembelajaran
organisasi (learning organization), yang secara sederhana dapat
diartikan sebagai :
Organisasi yang secara terus menerus melakukan perubahan diri agar dapat
mengelola pengetahuan lebih baik lagi, memanfaatkan tekhnologi, memberdayakan
sumber daya, dan memperluas area belajarnya agar mampu bertahan di lingkungan
yang selalu berubah.
- Hidup dan perubahan, tidak terpisahkan.
Berbicara
tentang perubahan, tidak dapat dilepaskan dari aspek kehidupan manusia sebagai
mahluk berakal yang memiliki intellegence, emotion, spiritual yang mana ketiga
hal tersebut mempengaruhi hasrat, sikap dan tindakan seseorang untuk mencari
dan memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Demikian pula halnya
dengan organisasi. Meminjam terminology yang dikembangkan oleh Hegel, filsuf
dari Jerman, bahwa kehidupan manusia selalu disertai dengan dialetika
perkembangan. Dialetika perkembangan itu membuat realitas dinamis. Sehingga
Hegel menyatakan bahwa perjalanan hidup manusia selalu mengikuti alur dialektis
tersebut yakni realitasnya, hidup manusia tidak ada yang statis, melainkan
selalu dinamis. Karena itu menurutnya, didunia ini perubahan merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari realitas hidup.
Organisasi
adalah wujud besar dari kumpulan manusia yang solid (SDM), kekuatan perangkat
keras sarana dan prasarana, perikatan perangkat lunak yaitu System yang
konsistens yang juga disebut peraturan, dimana ketiga bekerja secara
terorganisasi dan terkoordinasi dalam rangka melaksanakan kegiatan/proses
memenuhi hasrat, keinginan dan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas kehidupan
atau kesejahteraan, dan keseluruhan bergerak dalam kendali kepemimpinan
organisasi yang bertanggungjawab.
Keefektifan
organisasi seringkali menuntut implementasi perubahan. Hampir semua organisasi
selalu memperkenalkan perubahan-perubahan kecil yang adaptif (mudah melakukan
penyesuaian/adaptasi). Organisasi yang menghadapi perubahan lingkungan yang
cepat akan mencari fleksibilitas dalam struktur mereka. Perubahan pada dasarnya
menuntut fleksibilitas, inovasi, dan tanggapan yang cepat. Saat ini, telah
banyak kita temukan berbagai perubahan yang dilakukan oleh sebuah organisasi
demi bertahan dilingkungannya dan mewujudkan tujuan-tujuan tertentu yang
diharapkan akan membuat. organisasi tersebut bisa terus bertahan menghadapi
persaingan yang kian kentara di tengah kemajuan zaman. Salah satu contoh
issue yang sempat hangat sekitar 2 tahun lalu di tengah-tengah masyarakat
adalah perubahan logo Pertamina. Perusahaan yang beralih dari BUMN menjadi
Perseroan Terbatas (PT) ini merupakan sebuah babak baru perusahaan negara dalam
pengelolaan perminyakan nusantara. Adanya berbagai masalah yang muncul dari
proses perubahan yang terjadi dalam tubuh Pertamina sempat menjadi sorotan
publik.
- Menolak perubahan, menolak kehidupan
Perubahan merupakan suatu hal yang pasti adanya. Sikap orang
yang satu dengan yang lain tentu tidak sama. Sebagian orang menerima perubahan,
lantas merancang rencana. Selebihnya menolak perubahan dengan berbagai alasan.
Berikut beberapa alasan seseorang menolak perubahan.
Beberapa alasan orang-orang yang menolak perubahan:
a. mereka takut kehilangan sesuatu yang mereka anggap bernilai
b. memiliki kepercayaan yang rendah terhadap kepemimpinan dalam organisasi, atau memiliki kesalahapahaman tentang motivasi pemimpin tersebut
c. mereka kurang setuju dengan cara/stratergi perubahan yang dilakukan
d. mereka memiliki karakteristik personal yang cenderung kurang mentoleransi adanya perubahan
Beberapa asumsi mengenai perubahan:
a. perubahan itu pasti, bertumbuh adalah pilihan.
b. berubah itu sulit, karena mengajak orang ‘keluar’ dari zona nyaman mereka. Perubahan bisa menimbulkan ketakutan & kepanikan, namuan dengan komunikasi yang baik, perubahan bisa dikelola menjadi ‘ajang titik balik’ yang bisa meningkatkan kebersamaan/soliditas.
c. orang-orang yang bertahan tidak mau berubah sama banyaknya dengan orang yang mau berubah. Jangan terlalu khawatir, libatkan dan jangan tempatkan mereka sebagai penonton.
d. Tidak semua orang bisa diajak melihat perubahan. Tapi orang yang tidak mau berubah memiliki alasannya sendiri. Makin baik anda memahami alasan mereka, makin mudah anda menemukan cara mengatasinya.
e. reaksi orang-orang terhadap perubahan itu beragam, bergantung pada kepribadian, latar belakang, nilai/visi hidupnya, kepentingannya dan penilaian pribadi terhadap apa yang terjadi dalam organisasi.
f. Anda tidak bisa merubah orang lain, mereka sendiri yang memutuskan untuk memilih berubah. Anda hanya bisa membantu mereka ‘melihat lebih jelas’ alasan-alasan mengapa mereka harus berubah
g. Derajat dan kompleksitas perubahan itu beragam
Anda tidak bisa bicara banyak pada situasi perubahan yang sulit. Orang-orang lebih percaya pada persepsi-persepsi mereka sendiri (yang belum tentu benar) daripada orang luar.
h. Pembuktian adalah cara efektif mengajak pada perubahan yang lebih besar
i. Perubahan selalu membutuhkan aktor perubahan /change makers. Rata-rta mereka memiliki ketajaman pemikiran, keberanian dan keuletan yang luar biasa.
j. Pemimpin tidak bisa mengontrol perubahan, dia hanya bisa membentuk dan mempengaruhinya. Perubahan kadangkala tidak bisa diprediksi, karena itu lebih penting menyiapkan ‘karakter’ dan keberanian pemimpin untuk menghadapi perubahan tersebut.
k. Perubahan butuh waktu, biaya dan kekuatan. Untuk berhasil melakukannya perlu perencanaan, strategi yang jelas dan sistematis, dilakukan secara bertahap dan dukungan yang luas.
l. Perubahan teknis hanya mengubah hal-hal kecil, tapi perubahan filosofis bisa merubah lebih signifikan (perubahan strategis & perubahan operasional)
Beberapa alasan orang-orang yang menolak perubahan:
a. mereka takut kehilangan sesuatu yang mereka anggap bernilai
b. memiliki kepercayaan yang rendah terhadap kepemimpinan dalam organisasi, atau memiliki kesalahapahaman tentang motivasi pemimpin tersebut
c. mereka kurang setuju dengan cara/stratergi perubahan yang dilakukan
d. mereka memiliki karakteristik personal yang cenderung kurang mentoleransi adanya perubahan
Beberapa asumsi mengenai perubahan:
a. perubahan itu pasti, bertumbuh adalah pilihan.
b. berubah itu sulit, karena mengajak orang ‘keluar’ dari zona nyaman mereka. Perubahan bisa menimbulkan ketakutan & kepanikan, namuan dengan komunikasi yang baik, perubahan bisa dikelola menjadi ‘ajang titik balik’ yang bisa meningkatkan kebersamaan/soliditas.
c. orang-orang yang bertahan tidak mau berubah sama banyaknya dengan orang yang mau berubah. Jangan terlalu khawatir, libatkan dan jangan tempatkan mereka sebagai penonton.
d. Tidak semua orang bisa diajak melihat perubahan. Tapi orang yang tidak mau berubah memiliki alasannya sendiri. Makin baik anda memahami alasan mereka, makin mudah anda menemukan cara mengatasinya.
e. reaksi orang-orang terhadap perubahan itu beragam, bergantung pada kepribadian, latar belakang, nilai/visi hidupnya, kepentingannya dan penilaian pribadi terhadap apa yang terjadi dalam organisasi.
f. Anda tidak bisa merubah orang lain, mereka sendiri yang memutuskan untuk memilih berubah. Anda hanya bisa membantu mereka ‘melihat lebih jelas’ alasan-alasan mengapa mereka harus berubah
g. Derajat dan kompleksitas perubahan itu beragam
Anda tidak bisa bicara banyak pada situasi perubahan yang sulit. Orang-orang lebih percaya pada persepsi-persepsi mereka sendiri (yang belum tentu benar) daripada orang luar.
h. Pembuktian adalah cara efektif mengajak pada perubahan yang lebih besar
i. Perubahan selalu membutuhkan aktor perubahan /change makers. Rata-rta mereka memiliki ketajaman pemikiran, keberanian dan keuletan yang luar biasa.
j. Pemimpin tidak bisa mengontrol perubahan, dia hanya bisa membentuk dan mempengaruhinya. Perubahan kadangkala tidak bisa diprediksi, karena itu lebih penting menyiapkan ‘karakter’ dan keberanian pemimpin untuk menghadapi perubahan tersebut.
k. Perubahan butuh waktu, biaya dan kekuatan. Untuk berhasil melakukannya perlu perencanaan, strategi yang jelas dan sistematis, dilakukan secara bertahap dan dukungan yang luas.
l. Perubahan teknis hanya mengubah hal-hal kecil, tapi perubahan filosofis bisa merubah lebih signifikan (perubahan strategis & perubahan operasional)
- Situasi dan lingkungan organisasi, sulit untuk stabil, selalu berubah secara dramatis.
- Organisasi harus peka terhadap perubahan, mampu mengelolanya dalam fungsi organisasi.
Sebelumnya mari kita bahas terlebih dahulu hal –hal yang
berkaitan dengan administrasi, organisasi dan manajemen. Hal ini dilakukan
mengingat ada kaitan yang erat antara hal- hal tersebut dengan bahasan
fungsi-fungsi organisasi.
Administrasi dalam arti sempit biasa dikenal sebagai tata
usaha, yang meliputi tentang pencatatan, pengarsipan dll. Administrasi dalam
arti sempit berlaku pada negara-negara continental (Eropa).
Sedangkan Administrasi dalam arti luas, saat ini lebih
dikenal dengan “pemerintahan” contoh “Obama administration”. Administrasi dalam
arti luas berlaku pada negara-negara anglo saxon (Inggris, dan negara-negara
persemakmuran Inggris, Amerika Utara, Kanada, dan Amerika Serikat.
Administrasi dalam arti luas juga didefinisikan
sebagai “sebuah proses kerjasama dari
sekelompok orang untuk mencapai tujuan.
Untuk lebih memahami kaitan antara administrasi
organisasi serta manajemen, kita buatkan diagram.
|
Sekelompok orang
(organisasi/wadah)
|
|
Kerjasama
|
|
Tujuan
|
Dari diagram diatas bisa diambil kesimpulan bahwa Ilmu
Organisasi adalah ilmu yang mempelajari tentang kerjasama.
Apakah Organisasi itu?
Stephen P Robbins
dalam bukunya “Teori Organisasi, Struktur, Desain dan Aplikasi”mendefinisikan
Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordiasikan secara sadar,
dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas
dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau
sekelompok tujuan.
Definisi ini
tampaknya amat panjang, kita uraikan bagian-bagian yang lebih relevan.
Kalimat
“dikoordinasikan dengan sadar” mengandung pengertian manajemen.
“Kesatuan sosial”
berarti bahwa unit itu terdiri dari orang atau kelompok orang yang
berinterasksi satu sama lain. Pola interaksi yang diikuti oang dalam sebuah
organisasi tidak begittu saja timbul, tetapi dipikirkan lebih dahulu. Oleh
karena itu organisasi merupakan suatu kesatuan sosial, maka pola interaksi para
anggotanya harus diseimbangkan dan diselaraskan untuk meminimalkan keberlebihan
(redundancy) namun juga memastikan bahwa tugas tugas yang kritis telah
diselesaikan. Hasilnya adalahh bahwa definisi kita mengasumsikan secara
eksplisit kebutuhan untuk mengkoordinasikan pola interaksi manusia.
Sebuah organisasi mempunyai “batasan
yang relatif dapat diidentifikasi. Batasan dapat berubah dalam kurun waktu
tertentu dan tidak selalu jelas, namun sebuah batasan yang nyata harus ada agar
kita dapat membedakan anggota dan bukan anggota. Batasan cenderung dicapai
melalui perjanjian yang eksplisit antara para anggota dan organisasinya.
Pada kebanyakan
hubungan kepegawaian, terdapat sebuah perjanjian yag implisit dimana pekerjaan
itu ditukar dengan pembayaran upah.
Pada organisasi
sosial atau sukarela, para anggota memberi kontribusi dengan imbalan prestige,
inetraksi sosial atau kepuasan membantu orang lain. Tetapai setiap organisasi
mempunyai batasan yang membedakan antara siapa yang menjadi bagian dan siapa
yang tidak menjadi bagian dari organisasi tersebut.
Orang orang didalam sebuah organisasi
mempunyai suatu keterikatan terus menerus. Keterikatan disini dimaksudkan bukan
berarti keterikatan seumur hidup, tetapi organisasi dapat menghadapi perubahan
yang konstan didalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi
anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara teratur.
Organisasi ada untuk mencapai suatu
tujuan, dan biasanya tujuan tersebut tidak dapat dicapai oleh orang-orang yang
berkerja secara individual, tujuan akan dapat dicapai secara efisien jika
dilakukan melalui usaha kelompok. Tidak perlu semua anggota mendukung tujuan
organisasi secara penuh,namun definisi kita menyatakan adanya kesepakatan umum
mengenai misi organisasi.
Struktur
Organisasi. Definisi Organisasi mengakui adanya kebutuhan untuk
mengkoordinasikan pola interaksi para anggota secara formal. Struktur
organisasi menetapkan bagaiman tugas akan dibagikan, siapa melapor kepada
siapa, dan mekanisme koordinasi yang formal serta pola interaksi yang akan
diikuti.
Struktur Organisasi
mempunyai 3 komponen.
1.
Kompleksitas
mempertimbangkan tingkat diferensiasi yang ada dalam organisasi. Termasuk
didalamnya tingkat spesialisasi atau pembagian kerja. Jumlah tingkatan didalam
hierarki organisasi, serta tingkat sejauh mana unit-unit organisasi tersebar
secara geografis.
2.
Formalisasi
yaitu tingkat sejauh mana organisasi menyandarkan dirinya kepada peraturan dan
prosedur untuk mengatur prilaku dari
para pegawainya.
3.
Sentralisasi
mempertimbangkan letak pengambilan keputusan. Dibeberapa organisasi,
pengambilan keputusan sangat disentralisasi. Masalah-masalah dialirkan keatas
dan para para eksekutif senior memilih tindakan yang tepat. Pada kasus lainnya
pengambilan keputusan di desentralisasi.Kekuasaan disebar kebawah didalam
hierarki.
Desain Organisasi, menekankan sisi manajemen dari teori organisasi. Desain
organisasi mempertimbangkan konstruksi dan mengubah struktur organisasi untuk
mencapai tujuan tujuan organisasi. Mengkonstruksi dan mengubah sebuah
organisasi sama seperti membangun dan memperbaharui sebuah rumah. Keduanya
mulai dengan tujuan akhir. Dan untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan cara
atau rencana. Rencana adalah cetak biru.Pada pembentukan sebuah organisasi,
dokumen tersebut adalah bagan organisasi.
Teori Organisasi dan Perilaku Organisasi: Teori Organisasi mengambil pandangan makro (obyektif).
Unit-unit analisisnya adalah organisasi itu sendiri atau sub sub utamanya Teori
Organisasi memfokuskan diri pada perilaku dari organisasi dan menggunakan
definisi yang lebih luas tentang keefektifan organisasi. Teori Organisasi tidak
hanya memperhatikan prestasi dan sikap para pegawai, tetapi juga kemampuan
organisasi secara keseluruhan untuk menyesuaikan diri dan mencapai
tujuan-tujuannya.
Perilaku
Organisasi mengambil pandangan mikro (lebih subyektif). Memberi penekanan pada
individu-individu dan kelompok-kelompok kecil. Perilaku Organisasi memfokuskan
diri kepada perilaku di dalam organisasi dan kepada seperangkat variable
mengenai sikap yang sempit dari para pegawai, dan kepuasan kerja adalah yang
banyak diperhatikan. Topik-topik mennai perilaku individu, yang secara khas
dipelajari dalam perilaku organisasi adalah persepsi, nilai-nilai, pengetahuan,
motivasi, serta kepribadian. Termasuk didalam topik adalah mengenai kelompok
adalah peran, status kepemimpinan, kekuasaan, komunikasi, dan konflik.
Organisasi
bisa bergerakjika mempunyai sumber daya organisasi atau yang dikenal dengan
faktor-faktor organisasi.
1.
Man
2.
Money
3.
Material
4.
Methode
5.
Market
6.
Machine
Dan
untuk mengelola organisasi tersebut diperlukan alat yang kita sebut sebagai
‘manajemen organisasi’. Manajemen adalah alat untuk mengelola sumber daya
organisasi. Manajemen bisa diartikan juga sebagai proses untuk mencapai tujuan
melalui orang lain. Untuk hal tersebut diperlukan fungsi-fungsi manajemen.
1. P (Planing)
2. O (Organiting)
3. A (Actuating)
4. C (Controlling)
Indikator
dari keberhasilan manajemen adalah jika banyak orang yang mampu bekerja sama
untuk mencapai tujuan.
Berikut
adalah inti dari kaitan antara administrasi dan manajemen.
Administrasi Kerjasama TUJUAN
Manajemen
Leadership = how to impluence another poeple
(kepemimpinan)
Human
Relation
Komunikasi
(penyampaian
pesan)
- Diperlukan pegawai yang : Inovatif, kreatif, adaptif.
Salah
satu faktor terpenting dalam perubahan lingkungan internal organisasi adalah
karyawan. Karyawan merupakan satu-satunya aset hidup dan aktif serta berperan
besar dalam kelangsungan hidup perusahaan. Kesuksesan perusahaan terletak pada
kinerja karyawannya. Kesuksesan perusahaan adalah gabungan dan sinergi goresan
kontribusi kinerja individual karyawan terhadap pekerjaan dan perusahaan Tidak
semua karyawan adalah baik untuk setiap organisasi maupun pekerjaannya.
Beberapa karyawan cocok untuk pekerjaan tertentu di organisasi tertentu.
Beberapa karyawan hanya dapat memaksimalkan kinerjanya jika ditempatkan pada
pekerjaan tertentu dan akan “mati kutu” pada pekerjaan lainnya.. Kinerja
karyawan tergantung pada kenyamanan mereka dalam bekerja.
Kenyamanan
dalam bekerja muncul dari kecocokkan antara pekerjaan yang mereka lakukan
dengan apa yang sebenarnya mereka sukai skaligus mereka dapat lakukan dengan
optimal. Dengan demikian, minat dan bakat memegang andil yan signifikan
terhadap kinerja positif karyawan di dalam karya mereka pada organisasi tempat
mereka bekerja. Setiap karyawan tentunya bermula dari calon karyawan. Setiap
calon karyawan yang ingin menjadi karyawan pada pekerjaan tertentu di
perusahaan tentunya harus melewati proses seleksi. Seleksi sebagai salah satu
fungsi di dalam manajemen sumber daya manusia menjadi jembatan penghubung
antara karyawan yang berpotensi dengan organisasi.
Seleksi
memegang peranan kunci di dalam keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang.
Seleksi akan berujung pada keputusan untuk mempekerjakan karyawan dengan ikatan
kontrak tertulis maupun kontrak psikologis yang akan berdampak secara jangka
panjang terhadap performa organisasi. Jika terjadi kesalahan dalam proses ini,
yaitu organisasi mempunyai karyawan yang tidak tepat kompetensinya atau
organisasi tidak memiliki karyawan yang tepat kompetensinya; sebenarnya
organisasi itu telah kehilangan opportunity cost dan opportunity time di dalam
konteks persaingan.
Segala
bentuk investasi yang dicurahkan organisasi terhadap karyawan yang memiliki kompetensi
yang baik dan tepat akan menjadi salah satu indikator penting keberhasilan
perusahaan dalam jangka pendek. Keberhasilan ini akan dilanjutkan menjadi
jangka panjang apabila perusahaan dapat memberdayakan potensi yang karyawan
tersebut miliki bagi kinerja perusahaan untuk berusaha melakukan inovasi agar
dapat terus-menerus membentuk daya saing yang berbeda di setiap kondisi dan di
setiap waktu.
Kinerja
Dalam Organisasi Inovatif
Dalam
melakukan inovasi tentunya diperlukan potensi sumber daya manusia dalam
merespon tuntutan customer yang semakin berubah cepat, bukan hanya keunggulan
teknologi informasi saja yang digunakan, tetapi dorongan dan komitmen dari
seluruh personel organisasi juga sangat diperlukan (Ribhan, 2001). Artinya
sumber daya manusia merupakan faktor penggerak kemajuan perusahaan. Tanpa
sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompeten dengan pekerjaan,
perusahaan tidak akan mengalami kemajuan dalam inovasi.
Organisasi
inovatif ditandai dengan adanya karyawan-karyawan yang kreatif.
Karyawankaryawan yang kreatif akan menunjukkan kinerja atau performa yang
optimal dan cenderung konsisten bahkan berkembang. Kinerja karyawan dapat
dibangun melalui gabungan tiga komponen utamanya, yaitu keahlian, motivasi, dan
kemampuan untuk berkreasi. Keahlian merupakan serangkaian keterampilan dan
pengetahuan karyawan di dalam melaksanakan berbagai tugas dan pekerjaannya.
Karyawan memperoleh keahlian yang berasal dari bakat atau potensi yang mereka
miliki dan berkembang menjadi pengalaman yang berharga, yang didapatkan melalui
serangkaian program pendidikan dan pekerjaan aktual mereka.
Jika
keahlian merupakan kemampuan mereka dalam bekerja, motivasi merupakan kemauan
karyawan untuk bekerja. Terdapat berbagai hal yang mendorong karyawan untuk
bekerja; mulai dari keinginan mencari nafkah, hobi, mencari tantangan, hingga
mengaktualisasikan diri dengan pekerjaan mereka. Motivasi berkaitan dengan
faktor-faktor dalam diri karyawan yang mendorong mereka untuk terus bekerja.
Selain mempunyai kemauan dan kemauan, karyawan yang kreatif harus memiliki jiwa
yang kreatif. Dapat diketahui bahwa untuk mencapai tujuan level organisasi
semua berawal dari individu, yaitu kreatifitas individu yang artinya setiap
individu diharapkan dapat menjadi seorang yang kreatif di tempat kerja.
Pengertian kreatif
yaitu
(1) memiliki daya
cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan;
(2) bersifat
(mengandung) daya cipta; pekerjaan yang menghendaki kecerdasan dan imajinasi
(KBBI, 2005).
Kreativitas adalah
merupakan hasil dari pengembangan diri seseorang. Pengembangan diri seseorang
(karyawan) merupakan hal yang penting bagi organisasi, karena bagaimana mungkin
sebuah organisasi dapat berkembang apabila orang-orang di dalamnya tidak
berkembang. Kreativitas membuat organisasi melakukan inovasi, sehingga memiliki
daya saing, terutama diperlukan dalam industri jasa (Manopol dan Andrianti,
2011)
Agar
seseorang dapat berkembang maka orang tersebut harus tidak di dalam kondisi
“keterpaksaan” untuk melakukan sesuatu tetapi orang tersebut harus di dalam
kondisi “kerelaan” untuk melakukan sesuatu, artinya memiliki dorongan dari
dalam diri (motivasi intrinsik) untuk memenuhi kebutuhannya misalnya: prestasi,
pencapaian dan pengakuan. “Kerelaan” di sini memiliki arti dalam kondisi tidak
terbeban atau dalam kata lain bagaimana seseorang bisa “do what you love”
(Amabile, 1997).
Karyawan
yang mencintai pekerjaannya akan mencurahkan segala daya upaya hingga
semangatnya; dengan kata lain akan melakukan segala hal untuk kemajuan dirinya
dengan pekerjaan yang dia geluti dan lakukan. Agar seseorang dapat “do what you
love” seseorang harus mengenal diri dan pribadinya. Ketika bekerja (melakukan
sesuatu) setiap orang memiliki minatnya masingmasing yaitu ada yang tertarik
pada (1) Things/it (benda mati:peralatan, flora dan fauna, kertas-kertas berisi
kata-kata/angka-angka, hitungan), (2) ideas (ide, pemikiran, gagasan yang akan
menambah pengetahuan dan wawasan dirinya), (3) Peoples (persahabatan, relasi
sosial, diterima oleh orang lain). Dengan memiliki kemauan, kemampuan, dan jiwa
kreatif; maka karyawan akan selalu berusaha untuk terus menerus mengupdate
dirinya dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka akan menjadi pemain
individu yang mapan secara kinerja dan puas secara psikologis. Setelah menjadi
individu yang gemilang, maka mereka akan lebih mudah berinteraksi dengan
rekan-rekan kerja mereka untuk menghasilkan team work yang solid.
Dengan
demikian, akan tercipta interdependensi yang kuat di dalam organisasi inovatif.
Kemauan karyawan untuk terus mengoptimalkan panggilan hidupnya dalam pekerjaan
mereka akan termotivasi untuk selalu mengaplikasikan jiwa kreativitas mereka;
yang pada gilirannya akan mengembangkan organisasi ke arah inovasi, suatu
perubahan yang positif.
- Komitmen Tinggi (Menerima organisasi apa adanya).
Pentingnya komitmen tinggi bagi
seorang wirausaha adalah setiap saat pikirannya tidak lepas dari perusahaan dan
berusaha memajukannya.seorang wirausaha yang memilikki komitmen dalam usahanya
diharapkan dapat memiliki sifat sebagai berikut:
1. pantang
menyerah terhadap keadaan atau situasi apapun juga
2. memilikki
semangat dan tahan uji dari setiap tantangan penderita lahir batin
3. memilikki
kesabaran dan ketabahan dalam berusaha
4. selalu
bekerja,berjuang, dan berkorban
Seorang wirausaha yang
berkomitmen tinggi dalam berwirausaha seytidaknya harus memiliki tujuh kekuatan
yang dapat membangun kepribadian,yaitu sebagai berikut
1. memiliki
keyakinan yang kuat untuk maju dalam berwirausaha
2. memiliki
kemauan keras untuk maju dalam berwirausaha
3. memiliki
pemikiran yang konstruktif dan kreatif dalam berwirausaha
4. memiliki
ketekunan dan keuletan dalam berwirausaha
5. memiliki
kesabaran dan ketabahan dalam berwirausaha
6. memiliki
pertahanan sifat dan mental dalam berwirausaha
7. memiliki
kejujuran dan tenggung jawab dalam berwirausaha
Kaitannya dengan perilaku yang
berkomitmen tinggi, maka perilaku komitman tinggi tersebut tercermin dalam
perilaku seorang wirausaha sebegai berikut ini :
1. mengerti
akan tujuan berwirausaha
2. memiliki
motivasi tinggi untuk mencapai tujuan berwirausaha
3. berkemauan
keras untuk menyelesaikan tugas dari pekerjaan dalam berwirausaha
4. bekerjaan
dan berusaha dengan teliti dan cermat dalam berusaha
5. tidak
suka menunda-nunda tugas dan pekerjaan dalam berwirausaha
6. selalu
rajin, tekun, ulet, tabah dalam berwirausaha
7. mampu
menggunakan waktu sebaik-baiknya dalam berwirausaha
Pentingnya komtimen tinggi bagi
wirausaha, antara lain sebagai berikut:
1. bisa
mendapatkan hasil maksimal dengan sumber daya minimal
2. dapat
menggunakan sumber daya secara lebih efisien
3. menerapkan
dan meningkatkan serta memajukan pekerjaannya
4. meningkatkan
kesuksesan dalam berwirausaha
5. meningkatkan
rasa kepercayaan dalam berwirausaha
6. meningkatkan
etos semangat kerja bagi kepribadian dan karyawannya
MENGIDENTIFIKASI PENTINGNYA WIRAUSAHA YANG
BERKOMITMEN TINGGI
Penyimpangan
terhadap komitmen yang telah dibuat kalau diperhatikan ada beberapa faktor yang
mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut adalah ketidakjelasan peran, rendahnya
kompetensi, lingkungan kerja, keragaman sistem nilai yang dimiliki karyawan,
preferensi yang berbeda, dan kurangnya penghargaan dari institusi kepada
karyawan. Ke enam faktor tersebut dapat dipahami pada uraian di bawah ini.
1.
Kejelasan peran
karyawan
Peran dapat
diartikan sebagai suatu karakter yang harus dimainkan seorang
pelaku. Bisa juga diartikan sebagai karakteristik dan perilaku sosial yang
diharapkan dari seseorang sesuai posisi dan fungsinya dalam lingkungannya.
Realitas mempratekan peran dalam sebuah organisasi bisa berbentuk: pertama,
peran yang sudah ditetapkan, yang dimaksud di sini adalah jabatan dan tanggung
jawab yang teleh ditetapkan untuk diemban dan dikerjakan dengan baik. kedua, peran
baru yang dipilih manajer untuk karyawan tertentu sesuai dengan posisinya,
artinya pimpinan memberikan sebuah mandat kepada bawahan untuk mengemban tugas
yang baru dan harus diselesaikan dengan baik. Yang perlu dipahami, bila kedua
peran tersebut sudah ada mengapa masih saja terjadi penyimpangan kinerja?
Penyebabnya adalah bisa jadi manajer sering mengabaikan pentingnya menjelaskan
peran baru atau memberikan diskripsi pekerjaan secara jelas kepada kepada
karyawan yang dipilih /ditunjuknya. Manajer beranggapan bahwa bahwa karyawan
tersebut sudah mengetahui dengan jelas tentang jenis peran atau tanggung jawab
yang diembannya, padahal kenyataannya yang terjadi pada karyawan yang diberi
tanggung jawab tidak selalu seperti itu. Hal yang sangat penting adalah di
setiap unit atau departemen harus memiliki uraian pekerjaan dan uraian peran
yang jelas dan dijadikan acuan kerja oleh seluruh karyawan dan manajer. Semakin
jelas dan terinternalisasinya uraian peran di kalangan karyawan dan manajer
membuat semakin kecil peluang terjadinya penyimpangan kinerja.
2.
Kompetensi
Karyawan.
Kejelasan peran
saja tidak cukup untuk mendongkrak kinerja karyawan. Ada faktor lain yang
memengaruhi kinerja karyawan yakni faktor kompetensi yang dimilikinya.
Kompetensi adalah sebuah kemampuan yang ada pada diri seseorang yang telah
menguasai akan sebuah keterampilan secara riel maupun batiniah. Kompetensi
terbagi dua yaitu kompetensi keras berupa pengetahuan dan ketrampilan yang
dimiliki oleh seorang karyawan dari belajar secara formal dan informal. Yang
kedua adalah Kompetensi lunak berupa sikap, perilaku, etos kerja, motivasi,
prakarsa, kreatifitas, simpati dan empati yang dimiliki oleh karyawan. Jenis
kompetensi yang terakhir sering juga disebut sebagai keahlian lunak (soft
skills). Kompetensi dapat juga dikelompokkan menjadi yang terlihat dan
tersembunyi. Kompetensi yang terlihat seperti pengetahuan yang
dicirikan dengan kepemilikan ijasah, sertifikat, piagam, surat pengalaman
kerja, dan keahlian yang dicerminkan dengan posisi dan status pekerjaan.
Sementara yang tersembunyi berupa nilai-nilai agama, sosial, budaya yang
tertanam sebagai prinsip dalam hidup. Contohnya adalah kemampuan karyawan dalam
membuat keseimbangan antara kepentingan pekerjaan dan keluarga; konsep diri
atau kepercayaan diri ketika mengerjakan pekerjaan dan mengemban tugas baru;
dan kepribadian diri seperti jujur, tenang, termotivasi, dan bijak. Semakin
tinggi derajad kompetensi karyawan semakin tinggi pula kinerja yang
dihasilkannya.
3.
Lingkungan
Kerja.
Kalau kejelasan peran
dan kompetensi sudah terpenuhi maka karyawan akan lebih mampu
meningkatkan kinerjanya jika didukung lingkungan kerja yang nyaman. Lingkungan
kerja disini dilihat dari lingkungan fisik dan non-fisik. Lingkungan fisik
antara lain berupa fasilitas kerja termasuk peralatan kerja, ruangan, kursi dan
meja, listrik, pendingin ruangan, kebisingan yang rendah, dan alat pengaman.
Sementara lingkungan non-fisik antara lain berupa gaya kepemimpinan manajer
yang partisipatif, kenyamanan bekerja, ketenangan dan keamanan berpendapat,
kompensasi yang sebanding, mutu yang baik dalam hubungan vertikal dan
horisontal antar karyawan dan pimpinan, serta lingkungan sosial. Semakin nyaman
lingkungan kerja semakin tinggi kinerja karyawannya.
4.
Sistem Nilai.
Nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan
akhir yang diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar
dalam hidupnya. Konflik yang terjadi antara manajer dan karyawan karena
dipengaruhi oleh perbedaan nilai tentang ukuran kinerja pekerjaan dengan umpan
balik yang diterima oleh karyawan. Untuk memahami hal ini maka kita perlu
menegaskan dari awal bahwa apakah penilaian atas pekerjaan yang dikerjakan
sekarang ini akan dilihat dari proses atau hasil? ataukah gabungan dari
keduanya? Mungkin saja sang manajer menginginkan penerapan model kerja yang
berorientasi hasil. Alasannya karena hasil akan mencerminkan seberapa jauh
kemampuan untuk menghasilkan laba perusahaan. Sementara karyawan berpandangan
bahwa keberhasilan kinerja dicerminkan oleh orientasi proses yang ditunjukan
oleh penerapan cara-cara pekerjaan, sistematika bekerja, koordinasi, dan
kontrol kerja dari manajer. Bagi seorang manajer yang bijak maka dipilihlah
kombinasi keduanya yakni berorientasi proses dan hasil. Dengan cara itu maka
“kesepakatan” penggabungan sistem nilai akan mendorong peningkatan kinerja
karyawan.
5.
Preferensi.
Kalau
kejelasan peran, kompetensi, dan kesepakatan sistem nilai sudah ada maka
tampaknya tak ada alasan lagi bagi karyawan untuk berkinerja rendah. Benarkah
selalu demikian?. Masih ada faktor lain yang memengaruhinya yakni derajad
kesukaan atau preferensi terhadap pekerjaan tertentu. Kalau mereka yang
tergolong teori Y (suka bekerja, disiplin, dan bertangung jawab), jenis
pekerjaan apapun cenderung siap untuk dilaksanakan karyawan. Namun bisa saja
ada sebagian kecil karyawan tergolong teori X (tak suka bekerja, malas, dan tak
bertanggung jawab), maka proses dan kinerja karyawannya menjadi rendah. Karena
itu manajer hendaknya dapat mengidentifikasi derajad preferensi seseorang
(karyawan) terhadap pekerjaan yang diberikan kepada karyawan. Tidak jarang
preferensi seseorang sangat dipengaruhi bioritmenya. Selain itu sangat penting
dilakukan pengarahan kepada semua karyawan bagaimana bekerja kompak mutlak
diwujudkan. Hal ini mengingat suatu pekerjaan umumnya dilakukan oleh suatu tim.
Satu saja karyawan tidak suka dengan pekerjaan tertentu maka akan dapat mengganggu
suasana kerja tim yang akhirnya akan mengganggu kinerja tim.
6.
Penghargaan.
Pada
dasarnya setiap manusia, sekecil apapun membutuhkan penghargaan dari
orang lain. Misalnya butuh disapa, dikasihi, dicintai, ditolong, dan
didoakan. Jadi semacam pengakuan orang lain atas keberadaan diri individu
bersangkutan. Dalam bidang pekerjaan, penghargaan yang dibutuhkan karyawan
tidak saja selalu berbentuk kompensasi finansial tetapi juga
non-finansial. Kompensasi finansial dapat berupa gaji, upah, insentif,
dan bonus. Sementara kompensasi non-finansial bisa berupa jenjang karir, piagam
penghargaan prestasi, dan ucapan terimakasih. Mengabaikan penghargaan kepada
karyawan sama saja mengabaikan kebutuhan dasar manusia. Padahal penghargaan
adalah unsur vital dalam membangun motivasi dan kepuasan bagi karyawan untuk
meningkatkan kinerjanya.
Faktor-faktor
yang berhubungan dengan pengaruhi kinerja karyawan telah banyak diteliti. Namun
tidak semua faktor berpengaruh nyata terhadap kinerja. Hal itu sangat berkaitan
dengan tipe organisasi apakah berorientasi pada laba atau nir-laba, apakah
organisasi tersebut BUMN atau PMA. Kemudian kinerja karyawan sangat berkait
pula dengan faktor-faktor kompetensi oranisasi, skala atau ukuran usaha
organisasi, karakteristik perusahaan sebagai organisasi pembelajaran,
karakteristik karyawan, jenis pekerjaan, budaya organisasi, dan gaya
kepemimpinan manajer dalam organisasi. Dengan demikian faktor-faktor yang
memengaruhi kinerja karyawan cenderung beragam dan sangat situasional sesuai
dengan kondisi perusahaan atau organisasi masing-masing.
Gibson, et. al,
(1995) menguraikan pendapat Buchanan bahwa komitmen organisasi melibatkan 3
sikap yaitu,
1.
Identifikasi
dengan tujuan organisasi
2.
Perasaan
keterlibatan dalam tugas-tugas organisasi
3.
Perasaan
loyalitas terhadap organisasi.
Hasil riset
yang telah dia lakukan menunjukkan bahwa dengan tidak adanya komitmen pada diri
karyawan akan berakibat menurunnya efektivitas organisasi.
Muchinsky
(2001) berpendapat bahwa komitmen organisasi adalah derajat tingkat dimana
seorang karyawan merasakan suatu perasaan, pengertian, serta kesetiaan kepada
organisasi.
Sejalan
dengan hal tersebut Allen dan Meyer (1990) menguraikan 3 komponen penting dalan
komitmen yaitu :
a) komponen afektif yaitu
hal-hal yang mengacu kepada kecenderungan emosional karyawan
sebagaimana diidentifikasikan oleh organisasi berdasarkan kejadian-kejadian
yang ada dalam organisasi;
b) komponen berkelanjutan
yaitu hal-hal yang mengacu kepada biaya-biaya yang diperoleh selama hidup dan
operasional dalam organisasi;
c) komponen normatif yaitu
hal-hal yang mengacu kepada kewajiban-kewajiban karyawan terhadap tuntutan
organisasi.
Comments
Post a Comment