15. Perumusan Saran Kebijakan Publik



Makalah : KEBIJAKAN PUBLIK DAN APLIKASI
PERUMUSAN SARAN KEBIJAKAN PUBLIK

TOPIK BAHASAN :
PERMASALAHAN SAMPAH DI RW 16 KELURAHAN KAPUK, JAKARTA BARAT


A.   Latar belakang dan perumusan masalah.
DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia merupakan kota megapolitan yang sibuk dan berkembang cepat, dalam satu hari menghasilkan timbulan sampah sebesar +- 7000 ton (Sumber: Informasi Kebersihan Tahun 2016). Dengan jumlah penduduk yang beraktifitas di Jakarta terus bertambah disertai dengan perubahan pola konsumsi masyarakat mengakibatkan konsekuensi bertambahnya volume sampah dan kontribusi beragamnya jenis sampah seperti sampah kemasan yang berbahaya dan/atau sulit diurai oleh proses alam. Selain itu, sebagian besar masyarakat Jakarta masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, bukan sebagai sumber daya yang perlu dimanfaatkan. Sehingga masyarakat dalam menangani sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah. Kesadaran dan perilaku warga Jakarta untuk membuang sampah pada tempat sampah dan menjaga kebersihan dan keindahan kotanya belum sepenuhnya terlihat terbentuk dari tiap kepribadian warganya baik penduduk tetap maupun penduduk pendatang atau komuter. Dilain pihak, ketersediaan lahan yang semakin sulit dan terbatas serta pengelolaan sampah belum sesuai dengan metoda dan teknik pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. Keadaan ini mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya mencari solusi pengelolaan persampahan yang ramah lingkungan.
Peningkatan produksi sampah telah menimbulkan masalah pada lingkungan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk perkotaan. Sementara, lahan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah juga makin terbatas. Kondisi ini makin memburuk manakala pengelolaan sampah di masing-masing daerah masih kurang efektif, efisien, dan berwawasan lingkungan serta tidak terkoordinasi dengan baik.
Sudradjat (2008) menyatakan bahwa permasalahan sampah dapat dikatakan sebagai masalah kultural karena dampaknya mengena pada berbagai sisi kehidupan terutama di kota besar seperti Jakarta
Di permukiman kumuh rawan terjadi banyak masalah yang menghinggapi warga dan lingkungannya. Sebut saja banjir. Seperti wilayah RW 16 Kelurahan Kapuk, Jakarta Barat, yang sering menjadi langganan banjir.

Ketua RW 16 Kelurahan Kapuk, Poniman Suwarno, mengatakan permasalahan utama yang harus segera diselesaikan di wilayahnya adalah lingkungan. "Kalau lagi musimnya, RW 16 itu bisa setiap hari kebanjiran. Itu pasti kena banjir setiap gang itu. Surutnya paling tiga sampai empat hari. Lumayan lama,"

Banjir yang sering melanda kawasan tersebut bukan hanya karena tanah di wilayah tersebut rendah, melainkan juga ada permasalahan terhambatnya saluran air Kali Kamal yang melintasi permukiman warga. Padahal untuk mengatasi sampah, Poniman sudah melakukan kerja bakti dengan Petugas Prasarana Sarana Umum (PPSU).

Permasalahan sampah juga berakibat dengan masalah kesehatan. "Memang saluran air sudah jalan dan lebih baik daripada sebelumnya, tapi yang paling urgen belakangan ini soal kesehatan. Banyak yang kena penyakit demam berdarah di sini. Itu karena banyak genangan air, makanya meminta agar lingkungannya diperbaiki," kata Poniman.

Air pada selokan tersebut bau, berwarna gelap, dipenuhi sampah, bahkan tidak mengalir sama sekali. Menurut Sekretaris Keluharan Kapuk, Marwan Saari, permasalahan lain yang melanda wilayah ini tidak hanya pada penyakit fisik. Penyakit sosial pun kerap melanda RW 16.

B.   Menentukan secara pasti kepada siapa saran kebijakan diajukan.
Dengan adanya permasalahan tingginya timbulan sampah di TPS (Tempat Penampungan Sementara) dan keterbatasan daya tampung TPA (Tempat Penampungan Akhir). Penanganan permasalahan sampah yang kurang tepat dapat mengancam aspek keindahan kota dan pencemaran lingkungan serta masalah kesehatan. Timbulnya permasalahan sampah saat ini tidak terlepas dari perilaku warga masyarakat sebagai penghasil sampah. Kenyataan di lapangan menunjukkan masih rendahnya kesadaran warga masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekitar mereka dan  belum melakukan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dengan baik, mulai dari memilah sampah, menyimpannya, dan membuang sampah pada tempatnya, sehingga banyak kita temui sampah yang tidak terangkut. Pemerintah DKI Jakarta harus segera mengambil sebuah kebijakan yang cepat dan segera untuk mengambil langkah dalam mengatasi permasalahan sampah ini dan tentunya kebijakan yang akan diambil juga harus didukung dan tidak terlepas dari peran serta aktif seluruh masyarakat khususnya DKI Jakarta yang harus terlibat bahu membahu dalam penanganan masalah sampah di lingkungan terdekat mereka.

C.   Identifikasi masalah.
Berdasarkan latar belakang di atas,maka dapat di identifikasikan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana cara mengatasi permasalahan sampah di Jakarta?
2.      Bagaimana cara edukasi kepada masyarakat terkait sampah?
3.      Bagaimana menyikapi keberatan daerah penunjang lokasi TPST - TPA berada, perlukah dibuatkan alternatif kebijakan lain, semacam MOU atau regulasi lannya.

D.   Tujuan yang ingin dicapai.
Tujuan penelitian merupakan hal yang hendak di capai dalam pedoman untuk melakukan suatu kegiatan yang telah di rumuskan. Adapun tujuan di adakannya penelitian ini adalah :
1.      Untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dengan cara perbaikan fasilitas dan insfrastruktur pendukung.
2.   Untuk memberikan pengarahan dan edukasi bahwa membuang sampah pada tempatnya itu sangat penting, serta memberikan aturan yang tegas agar menjadi efek jera kepada masyarakat.
3.      Mencoba menganalisis dan memecahkan masalah tentang sampah, melalui mekanisme kebijakan, terkait dengan lokasi TPST - TPA di luar Jakarta (Bantar Gebang), serta memberikan alternatif TPST - TPA di lokasi lain, melalui Mou ataupun regulasi.





E.   Membuat Asumsi yang diperlukan sehingga jelas batas dari analisis yang dilakukan.
-          Asumsinya adalah, jika ada perbaikan insfrastruktur dan perbaikan fasilitas pengelolaan sampah, maka diharapkan sikap mental masyarakat dapat berubah lebih disiplin dalam hal kebiasaan membuang sampah sembarangan karena adanya dukunganfasilitas yng memadai juga memanfaatkan teknologi dengan Membangun insenerator di setiap kelurahan, secara bertahap.
-          Mengedukasi masyarakat tentang penanganan sampah, serta dengan dibuatkan aturan/sanksi yang tegas diharapkan akan memberikan efek jera kepada masyarakat.
-          Jika lokasi TPA diluar DKI, perlunya dilakukan kerjasama/ Mou dengan daerah penyangga TPA DKI misalnya dengan memberikan kompensasi dan regulasi lainnya. Dengan demikian diharapkan antara pihak DKI dan daerah penyangga terdapat hubungan saling efektif dan saling menguntungkan.

F.   Mengidentifikasi stake holder (pihak-pihak terkait)

Pemda DKI sebagai perumus dan pembuat kebijakan, juga masyarakat umum serta pihak ketiga yang terkait dengan kerjasama sebagai (Stakeholder), hendaknya saling bahu membahu untuk dalam penanganan pengelolaan sampah ini. Hal ini penting untuk pencapaian tujuan dari kebijakan itu sendiri, yaiu menciptakan Jakarta yang bersih tertib serta masyarakat yang sehat.

G.   Strategi Alternatif pemecahan masalah

Dari permasalahan yang telah diindentifikasi diatas dapat dilakukan analisa masalah dan situasi sebagai berikut:
  1. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah ;
  2. Keterbatasan lahan Tempat Pembuangan Sampah Sementara dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sehingga membutuhkan lahan untuk memperluas lokasi TPA di daerah penyangga seperti di Bantar Gebang- Bekasi oleh karena itu diperlukan koordinasi dan prosedur yang intensif dengan daerah penyangga di luar DKI Jakarta ,
  3. Sistem pengangkutan sampah yang kurang hiegenis dan belum terpisah dari sampah organik dan anorganik ;
  4. Keterbatasan sarana tempat sampah;
  5. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah.

Selain itu, kita dapat mengembangkan ide-ide solusi untuk dapat memecahkan masalah diatas sebagai berikut :

  1. Menyediakan sarana tempat sampah yang dapat memisahkan sampah organic dan anorganik;
  2. Peran serta masyarakat (Partisipasi) dalam mengelolah sampah mandiri menjadi kompos, daur ulang sampah menjadi produk ulang yang bisa dijual;
  3. Optimalisasi TPST - TPA sampah yang dikelolah oleh pihak swasta dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat di sekitar TPST - TPA melalui Corporate Social Responsibility sebagai bentuk perjanjian kerjasama
  4. Sistem kelembagaan sampah yang terintegrasi melalui RT/RW, Kelurahan, Kecamatan dan Pemda;
  5. Mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah;
  6. Membuat system aplikasi online yang dikelola oleh pemerintah tentang pengelolaan sampah yang menyediakan informasi dan menghubungkan antara pengepul /pengumpul sampah dengan pemilik sampah dengan pendekatan jual beli, dan melihat pencapaian kinerja dari anggota/staf yang terlibat dalam organisasi yang membidangi masalah sampah;

H.   Analisis strategi sesuai dengan kriteria yang layak

Dari ide solusi diatas dapat dianalisa dan menghasilkan beberapa variable antara lain :
Dari sisi cara penyelesaian masalah :
  1. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengelolah sampah;
  2. Meningkatkan optimalisasi kerjasama di Tempat Pembuangan Sampah Sementara dan Tempat Pembuangan Akhir sampah melalui Corporate Social Responsibility kepada masyarakat ;
  3. Meningkatkan sarana tempat sampah;
  4. Meningkatkan sumber pengetahuan dan teknologi tentang pengelolaan sampah melalui berbagai kegiatan antara lain; jurnal penelitian, ceramah, diskusi, seminar, dan lainnya;
  5. Meningkatkan koordinasi masyarakat dalam pengelolaan sampah yang terintegrasi melalui RT/RW, Kelurahan, Kecamatan dan Pemda, dan pihak swasta;
  6. Menciptakan Penggunaan system aplikasi online tentang pengelolaan sampah.

INDIKATOR YANG DIHARAPKAN:
  1. Menghilangkan sampah dengan cepat;
  2. Tersedianya sarana tempat sampah yang efektif dan efisien;
  3. Terciptanya sumberdaya manusia yang kreatif dalam menciptakan teknologi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan;
  4. Terciptanya keterpaduan dalam pengelolaan sampah antara masyarakat dengan RT/RW, Kelurahan, Kecamatan dan Pemda, pihak swasta;
  5. Terciptanya keharmonisan dengan masyarakat di lokasi TPA yang berada pada wilayah penyangga seperti TPA Bantar Gebang-Bekasi;
  6. Terciptanya sampah yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi;


Berikut ini urutan partisipasi dan indikator diatas ;
Cepat                    :        Prioritas IV   nilai 2
Efektif dan efisien :        Prioritas I     nilai 5
Kreatif                  :        Prioritas II    nilai 4
Keterpaduan          :        Prioritas III   nilai 3
Ekonomi                :        Prioritas V   nilai 1









Tindakan Kebijakan
Cepat

Efektif dan Efisien
Kreatif
Keterpaduan
Ekonomi
Keharmonisan
Hasil


1
6
4
3
2
5

Partisipasi
VI
6x1
6x6
6x4
6x3
6x2
6x5
126
Koordinasi
IV
4x1
4x6
4x4
4x3
5x2
5x5
91
Membuat  CSR
II
2x1
2x6
2x4
2x3
3x2
3x5
49
Menyediakan Sarana
V
5x1
5x6
5x4
5x3
1x2
1x5
77
Meningkatkan Pengetahuan dan teknologi
I
1x1
1x6
1x4
1x3
2x2
2x5
31
Menciptakan Sistem Online
III
3x1
3x6
3x4
3x3
4x6
4x5
86


Dari tabel diatas dapat disimpulkan apa yang harus dilakukan dalam penyelesaian masalah dalam pengelolaan sampah perlu diprioritaskan partisipasi masyarakat, selanjutnya koordinasi masyarakat dalam pengelolaan sampah yang terintegrasi melalui RT/RW, Kelurahan, Kecamatan dan Pemda, dan pihak swasta, selanjutnya menciptakan penggunaan system aplikasi online tentang pengelolaan sampah, selanjutnya menyediakan sarana tempat sampah yang dapat memisahkan sampah organic dan anorganik, dan Meningkatkan optimalisasi kerjasama di Tempat Pembuangan Akhir sampah melalui Corporate Social Responsibility kepada masyarakat, serta Meningkatkan sumber pengetahuan dan teknologi tentang pengelolaan sampah melalui berbagai kegiatan antara lain; jurnal penelitian, ceramah, diskusi, seminar, dan lainnya.




I.     Pilihan Strategi alternatif

Untuk pemecahan masalah penanganan sampah, mungkin dibawah ini adalah beberapa pilihan strategi alternatif :
  1. Melakukan daur ulang sampah. Daur ulang sampah adalah salah satu strategi untuk mengolah sampah menjadi barang yang dapat diolah kembali. Namun hambatan terbesar dari hal ini adalah kebanyakan produk yang kita pakai tidak dirancang untuk dapat didaur ulang jika sudah tidak terpakai lagi. Salah satu cara agar produsen merancang produk mereka dengan bahan yang bisa didaur ulang adalah pemberian insentif dalam bentuk pengurangan pajak atau lainnya
  2. Membuat perkumpulan bank sampah. Bank sampah ini bertujuan untuk mengurangi sampah dengan cara menabung sampah di bank sampah. Jadi sampah yang kita berikan akan ditukar dengan sejumlah uang. Sampah yang ditabung akan dijual lagi ke pengepul sampah dengan harga yang lebih tinggi
  3. Penerapan prinsip 4R yaitu :
·         Reduce (mengurangi), yaitu sebisa mungkin melakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan
·         Reuse (memakai kembali). Sebisa mungkin memakai barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang yang disposable
·         recycle (mendaur ulang), yaitu sebisa mungkin barang-barang yang sudah tidak berguna lagi bisa didaur ulang
·         Replace (mengganti). Yaitu gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang ramah lingkungan.







J.   Penyampaian rekomendasi

Dari hasil analisa beberapa indikator di atas, yang paling utama dalam proses penanganan sampah di DKI Jakarta adalah tingkat partisipasi masyarakat dan pilihan kedua diikuti koordinasi. Untuk itu perlu dibuat berbagai program yang melibatkan stake holder terkait dan masyarakat dalam proses penanganan sampah di lingkungan masing-masing. Misalnya program tersebut adalah program Bank Sampah. Dengan program ini sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat akan dihargai dengan sejumlah uang. Adanya pemberian uang/insentif ini tentunya akan membuat masyarakat tertarik dan akan mau terlibat secara aktif dalam kegiatan ini sehingga sampah-sampah yang ada di lingkungan akan dapat terkelola dengan baik.  Kesuksesan dari program ini tentunya sangat bergantung kepada pemerintah DKI Jakarta karena program ini membutuhkan dukungan dana maupun sarana/prasarana dari pemerintah.

Comments

Popular posts from this blog

Teori Administrasi Klasik

Teori : Frederick W Taylor.

16. SAKIP