Kepemimpinan Inovasi
TUGAS KULIAH
Kapasitas Inovasi dan Kolaborasi Governance
Kepemimpinan
Inovasi
KATA
PENGANTAR ................................................................................................... i
DAFTAR
ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Penulisan.............................................................................
B. Rumusan
Masalah........................................................................................
C. Tujuan
Penulisan..........................................................................................
D. Sistematika
Penulisan...................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi
& Teori Kepemimpinan..................................................................
B. Definisi
& Teori Inovasi...............................................................................
C. Korelasi
Kepemimpinan dan Inovasi...........................................................
D. Mengapa
Harus Dilakukan Inovasi..............................................................
E. Contoh-contoh
Inovasi.................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................................
B. Saran ........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Penulisan.
Masih
banyaknya keluhan masyarakat terhadap kinerja aparat pemerintah karena dirasa
belum optimalnya pelayanan kepada masyarakat, secara tidak langsung diakui oleh
Instansi pemerintah tidak terkecuali pemerintah daerah, terbukti semua instansi
pemerintah dengan gencar melakukan Reformasi Birokirasi di institusi
masing-masing.
Untuk
mencapai tujuan organisasi harus didukung dengan salah satu sumber daya manusia
yang handal, juga teknologi informasi yang maju dan canggih. Kemajuan
(Informasi dan Teknologi) yang demikian pesat, menuntut sumber daya manusia ASN
untuk berkreasi dan berinovasi untuk perbaikan pelayanan publik.
Instansi-instansi
pelayanan publik sebagai ujung tombak pelayanan publik, senantiasa melakukan
inovasi dan perbaikan terkait sistem pelayanannya. Salah satunya adalah dengan
memanfaatkan kecanggihan teknologi (komputer) sebagai sarana perbaikan
pelayanan publiknya.
Pemanfaatan
teknologi dan aplikasi komputerisasi untuk seluruh kegiatan pelayanan publik
seluruh Indonesia diharapkan mampu mengubah paradigma wajah buruk pelayanan
birokrasi. Dan dengan dilakukannya Inovasi ini, menjadikan sistem kinerja dan
pelayanan yang ada menjadi lebih efektif, efisian, terukur dan transparan.
Serta kemajuan teknologi ini menimbulkan kompetensi positip di lingkungan instansi-instansi
pelayanan publik.
Dalam
makalah ini kami akan mencoba membahas tentang Kepemimpinan Inovasi berikut
kajian teori-teori dari para ahli. terhadap organisasi terkait inovasi –inovasi
tersebut.
B. RumusanMasalah
Dari
latar belakang diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa rumusan masalah dari
makalah ini, yaitu:
1.
Definisi & Teori Kepemimpinan
2.
Definisi & Teori Inovasi
3.
Korelasi Kepemimpinan dan Inovasi
4. Mengapa Harus
dilakukan Inovasi
5. Contoh-contoh
Kepemimpinan Inovasi.
C. Tujuan
Penulisan
Dari
rumusan masalah diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa tujuan penulisan makalah
ini, yaitu penjelasan tentang :
1.
Definisi & Teori Kepemimpinan
2.
Definisi & Teori Inovasi
3.
Korelasi Kepemimpinan dan Inovasi
4. Mengapa Harus
dilakukan Inovasi
5. Contoh-contoh
Kepemimpinan Inovasi.
D. Sisitematika
Struktur
makalah ini yaitu terdiri dari 3 bab, yang disusun untuk membantu
pembaca dalam membaca dan memahami isi dari makalah ini. Adapun susunannya
terdiri atas:
BAB
I Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB
II Pembahasan. Di dalamnya berisi tentang : Definisi & Teori Kepemimpinan Definisi
& Teori Inovasi, Korelasi Kepemimpinan dan Inovasi, Mengapa Harus dilakukan Inovasi, Contoh-contoh Kepemimpinan Inovasi.
BAB
III Penutup, terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
BAB II
PEMBAHASAN
- Definisi dan Teori Kepemimpinan
Definisi :
Kepemimpinan
berasal dari Bahasa Inggris leader yang
memiliki arti pemimpin atau tokoh. Selain itu pemimpin juga memiliki arti
secara luas meliputi proses mempengaruhidalam menentukan tujuan organisasi,
memotivasi perilaku pengikut atau anggota untuk mencapai tujuan, mempengaruhi
untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
§ kepemimpinan
merupakan suatu konsep relasi. kepemimpinan hanya ada dalam proses relasi
dengan orang lain (para pengikut) . Apabila tidak ada pengikut, maka tidak ada
pemimpin. tersirat dalam definisi ini adalah premis bahwa pemimpin yang efektif
harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan berralasi dengan para
pengikut mereka.
§ kepemimpinan
merupakan suatu proses. agar bisa mempimpin, pemimpin harus melakukan sesuatu.
sprti telah diobservasi oleh john gardner (1986-1988) kepemimpinan lebih dari
sekedar menduduki suatu otoritas. Kendati posisi otoritas yang diformalkan
mungkin sangat mendorong suatu proses kepemimpinan, namun sekedar menduduki
posisi itu tidak menandai seseorang untuk menjadi pemimpin.
§ kepemimpinan
harus membujuk orang2 lain untuk mengambil tindakan. Pemimpin membujuk
pengikutnya melalui berbagai cara, seoerti menggunakan otoritas yang
terelegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan sasaran, memberi
imbalan dan hukum, restrukturisasi organisasi dan mengkomonikasikan visi.
Pengertian dari kepemimpinan
memiliki banyak sekali pendapat dari para ahli, hal ini dikarenakan setiap
orang memandang pemimpin dari sudut pandang yang berbeda-beda. Seorang pemimpin
memberikan pengaruh kepada anggota atau bawahan yang dipimpinnya. Setiap
anggota tentunya mendapatkan pengaruh yang berbeda-beda karena pada dasarnya
setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda.
Teori Kepemimpinan:
Teori tentang kepemimpinan selalu
mengalami perubahan dari masa ke masa. Hal ini dipengaruhi oleh cara pikir
orang yang selalu berkembang sehingga pemahaman atau pengertian dari
kepemimpinan selalu berkembang. Pada dasarnya semua pengertian memiliki
kekurangan dan kelebihan karena disesuaikan dengan situasi dan masalah yang
dihadapi.
Teori yang
pertama berkembang hingga tahun 1940-an yaitu teori kepimpinan yang didasarkan
pada teori sifat. Pada teori ini seorang pemimpin haruslah memiliki sifat-sifat
yang berbeda dengan yang bukan pemimpin.Sifat yang dimiliki seorang
pemimpin misalnya ambisi dan erergi, keinginan untuk memimpin, kejujuran dan
integritas, rasa percaya diri dan lain-lain.Menurut teori ini sifat seseorang
merupakan bawaan dari lahir sehingga seseorang yang tidak memiliki sifat
kepemimpinan tidak dapat menjadi pemimpin yang baik.
Selanjutnya pada tahun 1940-an
hingga 1960-an berkembang teori kepemimpinan berdasarkan pada teori tingkah
laku. Pada teori ini tingkah laku seorang pemimpin berbeda dengan tingkah laku
bawahanya atau anggotanya yang bukan pemimpin.Berdasarkan teori tingkah laku
seorang pemimpin dapat diajarkan sehingga untuk menjadi pemimpin yang baik
hanya perlu berusaha dan berlatih secara terus menerus.
Teori kepemimpinan yang berkembang
antara tahun 1960-an sampai tahun 1970-an teori kemungkinan. Teori ini juga
bisa disebut teori situasional, karena keberhasilan seorang pemimpin tidak
berdasarkan sifat atau tingkah laku akan tetapi dipengaruhi oleh situasi
tertentu. Sehingga setiap situasi memerlukan cara atau gaya yang berbeda-beda
untuk mengatasinya.
Antara tahun 1970-an hingga tahun 2000-an
berkembang teori kepemimpinan mutakhir, seperti teori kepemimpinan atribusi,
teori kepemimpinan karismatik dan teori kepemimpinan transformasional atau
kepemimpinan transaksional. Teori atribusi menyatakan bahwa kepemimpinana
hanyalah sebuah atribusi yang dibuat oleh orang (bawahan atau anggota) kepada
orang lain (pemimpin). Teori kepemimpinan karismatik menyatakan bahwa seorang
pemimpin memiliki pengaruh luar bisasa pada oraganisasi. Hal ini
dikarenaka seorang pemimpin memiliki tingkat kepemimpinan yang tinggi, dominasi
kepemimpinana, serta keyakinan akan kebenaran moral dari keyakinannya.
Sedangkan teori kepemimpinan transformasional adalah teori yang mengemukakan
bahwa seorang pemimpin memandu atau memotivasi bawahannya untuk mencapai tujuan
dan penegasan pada tugas bawahan masing-masing.Pemimpin memberikan pertimbangan
dan rangsangan intelektual yang diindividualkan, dan memiliki karisma.
Kepemimpinan
Transformasional dan Transaksional.
Konsep kepemimpinan transformasional
dan transaksional didasari oleh teori kebutuhan atau motivasi maslow. Menurut
Bass dalam Robbins, (2008) kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah bisa
dipenuhi dengan baik oleh pola kepemimpinan transaksional sedangkan pemuasan
kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi hanya bisa dipenuhi oleh pemimpin yang
menerapkan pola kepemimpinan transformasional.
Kepemimpinan
Transformasional.
Menurut Bass dalam Swandari (2003)
mendefinisikan bahwa kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin yang
mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu.
Dengan penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa dipercaya,
dihargai, loyal dan tanggap kepada pimpinannya.
Kepemimpinan transformasional adalah
tipe pemimpin yang menginsprirasi para pengikutnya untuk mengenyampingkan
kepentingan pribadi mereka dan memiliki kemampuan mempengaruhi yang luar biasa,
Aspek utama dari kepemimpinan transformasional adalah penekanan pada
pembangunan pengikut, oleh karena itu, ada tiga cara seorang pemimpin
transformasional memotivasi karyawannya, yaitu dengan:
1. Mendorong
karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha;
2. Mendorong
karyawan untuk mendahulukan kepentingan kelompok; dan
3. Meningkatkan
kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti harga diri dan aktualisasi diri.
Bass dalam Robbin dan Judge, (2008)
mengemukakan adanya empat ciri karakteristik kepemimpinan transformasional,
yaitu:
A.
Kharisma (Charisma) / Pengaruh yang Ideal
Merupakan proses pemimpin
mempengaruhi bawahan dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat, Kharisma atau
pengaruh yang ideal berkaitan dengan reaksi bawahan terhadap pemimpin.
Pemimpin di identifikasikan dengan dijadikan sebagai penutan oleh bawahan,
dipercaya, dihormati dan mempunyai misi dan visi yang jelas menurut persepsi
bawahan dapat diwujudkan. Pemimpin mendapatkan standard yang tinggi dan sasaran
yang menantang bagi bawahan.
B.
Rangsangan intelektual (intellectual stimulation)
Berarti mengenalkan cara pemecahan
masalah secara cerdik dan cermat, rasional dan hati-hati sehingga anggota mampu
berpikir tentang masalah dengan cara baru dan menghasilkan pemecahan yang
kreatif. Rangsangan intelektual berarti menghargai kecerdasan mengembangkan
rasionalitas dan pengambilan keputusan secara hati-hati. Pemimpin yang
mendorong bawahan untuk lebih kreatif, menghilangkan keengganan bawahan untuk
mengeluarkan ide-idenya dan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada
menggunakan pendekatan-pendekatan baru yang lebih menggunakan intelegasi dan
alasan-alasan yang rasional dari pada hanya didasarkan pada opini-opini atau
perkiraan-perkiraan semata.
C.
Inspirasi (Inspiration)
Pemimpin yang inspirasional adalah
seorang pemimpin yang bertindak dengan cara memotivasi dan menginspirasi
bawahan yang berarti mampu mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi dari
bawahannya, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada kerja keras,
mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana.
Pemimpin mempunyai visi yang menarik
untuk masa depan, menetapkan standar yang tinggi bagi para bawahan, optimis dan
antusiasme, memberikan dorongan dan arti terhadap apa yang perlu dilakukan.
Sehingga pemimpin semacam ini akan memperbesar optimisme dan antusiasme bawahan
serta motivasi dan menginspirasi bawahannya untuk melebihi harapan motivasional
awal melalui dukungan emosional dan daya tarik emosional.
D.
Perhatian Individual (Individualized consideration)
Perhatian secara individual
merupakan cara yang digunakan oleh pemimpin untuk memperoleh kekuasaan dengan
bertindak sebagai pembimbing, memberi perhatian secara individual dan dukungan
secara pribadi kepada bawahannya.
Pemimpin mampu memperlakukan orang
lain sebagai individu, mempertimbangkan kebutuhan individual dan
aspirasi-aspirasi, mendengarkan, mendidik dan melatih bawahan. Sehingga
pemimpin seperti ini memberikan perhatian personal terhadap bawahannya yang
melihat bawahan sebagai individual dan menawarkan perhatian khusus untuk
mengembangkan bawahan demi kinerja yang bagus. Pimpinan memberikan
perhatian pribadi kepada bawahannya, seperti memperlakukan mereka sebagai
pribadi yang utuh dan menghargai sikap peduli mereka terhadap organisasi.
Kepemimpinan
transaksional
Burns
mendefinisikan kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan yang memotivasi
bawahan atau pengikut dengan minat-minat pribadinya. Kepemimpinan transaksional
juga melibatkan nilai-nilai akan tetapi nilai-nilai itu relevan sebatas proses
pertukaran (exchange process), tidak langsung menyentuh substansi
perubahan yang dikehendaki. Kudisch, mengemukakan kepemimpinan transaksional
dapat digambarkan sebagai :
1. Mempertukarkan
sesuatu yang berharga bagi yang lain antara pemimpin dan bawahannya.
2. Intervensi
yang dilakukan sebagai proses organisasional untuk mengendalikan dan
memperbaiki kesalahan.
3. Reaksi atas
tidak tercapainya standar yang telah ditentukan.
Kepemimpinan transaksional menurut
Metcalfe (2000) pemimpin transaksional harus memiliki informasi yang jelas
tentang apa yang dibutuhkan dan diinginkan bawahannya dan harus memberikan
balikan yang konstruktif untuk mempertahankan bawahan pada tugasnya. Pada
hubungan transaksional, pemimpin menjanjikan dan memberikan penghargaan kepada
bawahannya yang berkinerja baik, serta mengancam dan mendisiplinkan bawahannya
yang berkinerja buruk.
Bernard M. Bass mengemukakan
kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan di mana pemimpin menentukan apa
yang harus dikerjakan oleh karyawan agar mereka dapat mencapai tujuan mereka
sendiri atau organisasi dan membantu karyawan agar memperoleh kepercayaan dalam
mengerjakan tugas tersebut.
Jadi kepemimpinan transaksional
merupakan sebuah kepemimpinan dimana seorang pemimpin mendorong bawahannya
untuk bekerja dengan menyediakan sumberdaya dan penghargaan sebagai imbalan
untuk motivasi, produktivitas dan pencapaian tugas yang efektif.
Bass dalam Yukl, (2007) mengemukakan
bahwa hubungan pemimpin transaksional dengan karyawan tercermin dari tiga hal
yakni:
1) Pemimpin mengetahui apa
yang diinginkan karyawan dan menjelasakan apa yang akan mereka dapatkan apabila
kerjanya sesuai dengan harapan;
2) Pemimpin menukar
usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan imbalan; dan
3) Pemimpin responsif
terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan tersebut sebanding
dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan karyawan.
Karakteristik kepemimpinan
transaksional ditunjukkan dengan prilaku atasan sebagai berikut (Bass dalam
Robbins – Judge, 2008) :
1.
Imbalan Kontinjen (Contingensi Reward).
Pemimpin melakukan kesepakatan tentang hal-hal
apa saja yang dilakukan oleh bawahan dan
menjanjikan imbalan apa yang akan diperoleh
bila hal tersebut dicapai.
2.
Manajemen dengan pengecualian / eksepsi Aktif (Active
Manajemen By exception). Pada manajemen eksepsi aktif
pemimpin memantau deviasi dari standar yang telah ditetapkan dan
melakukan tindakan perbaikan, serta melakukan tindakan perbaikan.
3.
Manajemen dengan pengecualian / eksepsi pasif (Pasive
Manajemen By exception). Pada manajemen eksepsi pasif
pemimpin melakukan tindakan jika standar tidak tercapai.
PERBEDAAN
KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DENGAN TRANSFORMASIONAL
Kepemimpinan transaksional dan
transformasional memiliki perbedaan esensial dalam konstruksi perilaku
kepemimpinan tetapi sifatnya saling melengkapi dan tidak saling meniadakan.
Seberapa besar kombinasinya tergantung dari situasi masing-masing.
Menurut pemikiran Bass (2007),
kepala sekolah transaksional bekerja di dalam budaya organisasi sekolah seperti
yang ada, sedangkan kepala sekolah transformasional mengubah budaya organisasi
sekolah. Perbedaan esensial antara pemimpin transaksional dan transformasional
berikut ini :
Kepemimpinan Transaksional
1. Pemimpin
menyadari hubungan antara usaha dan imbalan
2. Kepemimpinan
adalah responsif dan orientasi dasarnya adalah berurusan dengan masalah
sekarang.
3. Pemimpin
mengandalkan bentuk-bentuk standar bujukan, hadiah, hukuman dan sanksi untuk
mengontrol pengikut.
4. Pemimpin
memotivasi pengikutnya dengan menetapkan tujuan dan menjanjikan imbalan bagi
kinerja yang dikehendaki.
5. Kepemimpinan
tergantung pada kekuatan pemimpin memperkuat bawahan untuk berhasil
tawar-menawar.
Kepemimpinan Transformasional
1. Pemimpin
membangkitkan emosi pengikut dan memotivasi mereka bertindak di luar kerangka
dari apa yang digambarkan sebagai hubungan pertukaran.
2. Kepemimpinan
adalah bentuk proaktif dan harapan-harapan baru pengikut.
3. Pemimpin dapat
dibedakan oleh kapasitas mereka mengilhami dan memberikan pertimbangan
individual (bentuk perhatian, dukungan, dan pengembangan bagi pengikut),
stimulasi intelektual (upaya pemimpin untuk meningkatkan kesadaran terhadap
permasalahan organisasional dengan sudut pandang yang baru) dan pengaruh ideal
(membangkitkan emosi dan identifikasi yang kuat terhadap visi organisasi) untuk
pengikut.
4. Pemimpin
menciptakan kesempatan belajar bagi pengikut mereka dan merangsang pengikutnya
untuk memecahkan masalah.
5. Pemimpin
memiliki visi yang baik, retoris dan keterampilan manajemen untuk mengembangkan
ikatan emosional yang kuat dengan pengikutnya.
6. Pemimpin
memotivasi pengikutnya bekerja untuk tujuan yang melampaui kepentingan pribadi.
Jenis-jenis
kepemimpinan
Menurut Hasibuan
(2002) Ada beberapa jenis kepemimpinan yang antara lain
adalah:
1.
Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan otoriter adalah jika
kekuasaan atau wewenang sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau
pimpinan itu mengganti sistem sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan
kebijakan hanya ditetapkan sendiri oleh pimpinan. Bahwa tidak diikutsertakan
untuk memberikan saran, ide dan pertimbangan dalam proses pengambilan
keputusan.
2.
Kepemimpinan Partisipatif
Kepemimpinan partisipatif adalah
apabila di dalam kepemimpinannya dilakukan secara persuasif, menciptakan
kerjasama yang serasi, menumbuhkan realitas dan pertisipasi para bawahan,
pemimpin motivasi bawahan agar merasa ikut memiliki perusahaan. Pemimpin dengan
cara partisipatif akan mendorong kemampuan bawahan hal mengambil keputusan.
Dengan demikian, pemimpin yang
selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.
3.
Kepemimpinan Delegatif
Kepemimpinan delegatif apabila
seorang pemimpin mendelegasikan wewenang kepada bawahan dengan agak lengkap
dengan demikian bawahan dapat mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan
bebas atau leluasa dalam melaksanakan pekerjaannya. Pemimpin yang tidak peduli
cara bawahan mengambil keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan
kepada bawahan.
4.
Kepemimpinan Situasional
Fokus pendekatan situasional
terhadap kepemimpinan terletak pada perilaku yang di observasi atau perilaku
nyata yang terlihat, bukan pada kemampuan atau potensi kepemimpinan yang dibawa
sejak lahir. Penekanan pendekatan situasional adalah pada perilaku pemimpin dan
anggota dan pengikut dalam kelompok dan situasi yang variatif. Menurut
kepemimpinan situasional tidak ada satupun cara terbaik untuk mempengaruhi
orang lain. kepemimpinan yang harus digunakan terhadap individu atau
kelompok tergantung pada tingkat kesiapan pada orang yang akan dipengaruhi.
Sedangkan menurut Ahmad Taufik
Nasution (2009) jenis kepemimpinan secara garis besar dikelompokkan kepada dua
golongan besar, yaitu sebagai berikut:
1. Pemimpin
sekuler.
Pemimpin seperti ini beranjak dari
landasan materialisme. Ia meyakini bahwa jabatan yang mereka peroleh adalah
hasil dari kerja keras, tanpa campur tangan siapapun. Mereka meyakini usaha dan
kesungguhan pasti akan membuahkan kesuksesan. Contoh pemimpin seperti ini
adalah Adolf Hitler Mussolini, dan lain-lain. Bagi mereka kekuasaan adalah
tujuan hidup, jabatan itu adalah akhir dari segala-galanya.
2. Pemimpin
spiritual.
Kelompok ini yakin bahwa jabatan
yang di peroleh semata-mata amanah yang di berikan Allah kepada mereka
Apapun yang di peroleh tidak hanya tergantung dengan kerja keras, dan
kesungguhan, tapi juga sangat di tentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar
eksistensi manusia. Contoh pemimpin seperti ini di palestina adalah Syekh Ahmad
Yasin, di India ada Mahatma Gandhi.
- Definisi dan Teori Inovasi.
Definisi :
Inovasi adalah
suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal
sebelumnya. orang atau wirausahawan yang slalu berinovasi,
maka ia sapat dikatakan sebagai seorang wirausahwan yang inovatif. seseorang
yang inovatif akan selalu berupaya melakukan perbaikan, menyajikan sesuatu yang
baru/unik yang berbeda dengan yang sudah ada. inovatif juga merupakan sikap
penting bagi yang hendaknya dimiliki oleh seorang wirausahawan. wirausahawan
yang slalu melakukan inovasi dalam
ushanya. maka keuntungan dan kesuksesan akan ia dapat. inovatif merupakan
implikasi dari karakteristik wirausahawan yang mampu membawa perubahan pada
lingkungan sekitarnya. inovatif secara tidak langsung menjadi sifat pembeda
antara wirausahawan dengan orang biasa, maupun pengusaha. seorang wirausahawan
akan selalu memikirkan untuk melakukan sesuatu yang berbeda, tidak seperti yang
dipikirkan dan dilakukan oleh kebanyakan orang. kreatif dan inovatif adalah
suatu kemampuan untuk memindahkan sumber daya yang kurang produktif menjadi
sumber daya yang produktif sehingga memberikan nilai ekonomis. baik langsung
maupun tidak langsung seorang wirausahawan adalah orang yangmampu membawa
perubahan pada lingkunganya. disisi lain ia juga orang yang sanggup menerima
perubahan yang terjadi dan menyikapi perubahan tersebut dengan positif. ia juga
berani mengambil resiko berhasil ataupun gagal di setiap jalan yang ia ambil.
wirausahawan mampu bertahan pada kondisi perekonomian yang sulit dan serba
kalut. karena disaat semua resah, ia memiliki kreasi daninovasi untuk memindahkan sumber daya yang kurang
produktif menjadi sumber daya yang produktif sehingga memberikan nilai
ekonomis.
Definisi
Inovasi menurut Para Ahli
§ Everett M.
Rogers (1983), Mendefisisikan bahwa inovasi adalah
suatu ide, gagasan, praktek atau objek/benda yang disadari dan diterima sebagai
suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi.
§ Stephen
Robbins (1994), Mendefinisikan, inovasi sebagai
suatu gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu
produk atau proses dan jasa.
§ Rosabeth
Mass Kanter (1996); inovasi adalah sebuah hasil karya pemikiran baru yang di
terapkan dalam kehidupan manusia.
§ Amabile
& Kantil (1999; inovasi merupahkan impementasi.
Berdasarkan
pengertian tersebut, Robbins lebih memfokuskan pada tiga hal utama yaitu :
1. Gagasan baru
yaitu suatu olah pikir dalam mengamati suatu fenomena yang sedang terjadi,
termasuk dalam bidang pendidikan, gagasan baru ini dapat berupa penemuan dari
suatu gagasan pemikiran, Ide, sistem sampai pada kemungkinan gagasan yang
mengkristal.
2. Produk dan
jasa yaitu hasil langkah lanjutan dari adanya gagasan baru yang ditindak
lanjuti dengan berbagai aktivitas, kajian, penelitian dan percobaan sehingga
melahirkan konsep yang lebih konkret dalam bentuk produk dan jasa yang siap
dikembangkan dan dimplementasikan termasuk hasil inovasi dibidang
pendidikan.
3. Upaya
perbaikan yaitu usaha sistematis untuk melakukan penyempurnaan dan melakukan
perbaikan (improvement) yang terus menerus sehingga buahinovasi itu dapat dirasakan manfaatnya.
Inovasi
mempunyai 4 (empat) ciri yaitu :
1. Memiliki
kekhasan / khusus artinya suatu inovasi memiliki ciri
yang khas dalam arti ide, program, tatanan, sistem, termasuk kemungkinan hasil
yang diharapkan.
2. Memiliki
ciri atau unsur kebaruan, dalam arti suatu inovasi harus memiliki karakteristik
sebagai sebuah karya dan buah pemikiran yang memiliki kadar Orsinalitas dan
kebaruan.
3. Program inovasi dilaksanakan melalui program yang
terencana, dalam arti bahwa suatuinovasi dilakukan
melalui suatu proses yang yang tidak tergesa-gesa, namun keg-inovasi
dipersiapkan secara matang dengan program yang jelas dan direncanakan terlebih
dahulu.
4. Inovasi yang
digulirkan memiliki tujuan, program inovasi yang dilakukan harus memiliki arah
yang ingin dicapai, termasuk arah dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut.
Sifat
Perubahan Dalam Inovasi Ada 6 Kelompok Yaitu
1.
Penggantian (substitution)
Misalnya : Inovasi dalam penggantian jenis sekolah, penggantian bentuk perabotan, alat-alat atau sistem ujian yang lama diganti dengan yang baru.
Misalnya : Inovasi dalam penggantian jenis sekolah, penggantian bentuk perabotan, alat-alat atau sistem ujian yang lama diganti dengan yang baru.
2. Perubahan (alternation)
Misalnya : Mengubah tugas guru yang tadinya hanya bertugas mengajar, ditambah dengan tugas menjadi guru pembimbing dan penyuluhan / mengubah kurikulum sekolah yang semula bercorak teoretis akademis menjadi kurikulum dan mata pelajaran yang berorientasi bernuansa keterampilan hidup praktis.
3.
Penambahan (addition)
Misalnya : Adanya pengenalan cara penyusunan dan analisis item tes objektif di kalangan guru sekolah dasar dengan tidak mengganti atau mengubah cara-cara penilaian yang sudah ada.
Misalnya : Adanya pengenalan cara penyusunan dan analisis item tes objektif di kalangan guru sekolah dasar dengan tidak mengganti atau mengubah cara-cara penilaian yang sudah ada.
4.
Penyusunan kembali (restructturing)
Misalnya : Upaya menyusun kembali susunan peralatan, menyusun kembali komposisi serta ukuran dan daya tampung kelas, menyusun kembali urutan mata-mata pelajaran / keseluruhan sistem pengajaran, sistem kepangkatan, sistem pembinaan karier baik untuk tenaga edukatif maupun tenaga administratif, teknisi, dalam upaya perkembangan keseluruhan sumber daya manusia dalam sistem pendidikan.
Misalnya : Upaya menyusun kembali susunan peralatan, menyusun kembali komposisi serta ukuran dan daya tampung kelas, menyusun kembali urutan mata-mata pelajaran / keseluruhan sistem pengajaran, sistem kepangkatan, sistem pembinaan karier baik untuk tenaga edukatif maupun tenaga administratif, teknisi, dalam upaya perkembangan keseluruhan sumber daya manusia dalam sistem pendidikan.
5.
Penghapusan (elimination)
Contohnya : Upaya menghapus mata-mata pelajaran tertentu seperti mata pelajaran menulis halus, atau menghapus kebiasaan untuk senantiasa berpakaian seragam
Contohnya : Upaya menghapus mata-mata pelajaran tertentu seperti mata pelajaran menulis halus, atau menghapus kebiasaan untuk senantiasa berpakaian seragam
6.
Penguatan (reinforcement)
Misalnya : Upaya peningkatan atau pemantapan kemampuan tenaga dan fasilitas sehingga berfungsi secara optimal dalam permudahan tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Misalnya : Upaya peningkatan atau pemantapan kemampuan tenaga dan fasilitas sehingga berfungsi secara optimal dalam permudahan tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Jenis-jenis Inovasi
§ process
§ product
§ paradigma
§ position
Prinsip
Inovasi (Peter Drucker. 1993)
§ inovasi
sebuah usaha sistematis dengan tujuan yang jelas.
§ inovasi
tidak hanya berdasarkan perseptual, tetapi juga secara konseptual.
§ diawali
dengan ide sederhana,mudah dan fokus pada satu tujuan.
§ diawali
dengan inovasi kecil
§ jangan
merasa pintar diri,akan menyebabkan kurang hati-hati.
Hambatan
inovasi (Kanter 2002)
§ pimpinan
tidak menghargai gagasan
§ melempar
tanggung jawab untuk memberi penyelesaian inovasi
§ pemimpin
mengkritik dan selalu berangkat dari kelemahan
§ takut gagal
§ proleksionistik
§ membuat
peraturan tanpa diskusi
- Korelasi Kepemimpinan dan Inovasi
Apa
hubungan antara pemimpin dan inovasi? Kenapa pemimpin harus selalu berinovasi?
Apakah inovasi yang tiada henti akan membuat kepemimpinan seseorang menjadi
lebih baik?
Menurut
pendapat kami pemimpin dan inovasi adalah dua hal yang harus selaluberiringan.
Artinya, di mana ada pemimpin maka di sana ada inovasi dan gagasan baru. Harus
ada rencana perbaikan. Nah, untuk melakukan hal itu, sang pemimpin harus tahu
konteks dan situasi dari institusi yang dia pimpin.
- Mengapa harus dilakukan Inovasi
Kenapa harus
berinovasi? Inovasi dilakukan untuk menjawab tantangan perubahan. Perkembangan
baru terjadi setiap saat, bahkan detik. Tugas seorang pemimpin adalah mengamati
perubahan itu dan menyiapkan diri dan institusinya untuk menghadapi perubahan
yang akan terjadi. Di sini, kecerdasan melihat masa depan atau VISI adalah
kunci utama keberhasilan seorang pemimpin
- Contoh-contoh Kepemimpinan Inovasi.
Contoh Inovasi
di lingkungan BPN. Layanan INOVASI Unggulan
} 1.
One Day Service Office
} 2.
One Day Service Larasita
} 3.
Weekend Service
} 4.
Geo KKP
} 5.
PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap)
Contoh Inovasi
di lingkungan Kepolisian :
} 1.
Pelayanan SIM mobil keliling.
} 2.
Pelayanan pajak mobil online. Dll
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan:
- Pentingnya pemimpin dalam inovasi
Definisi kepemimpinan
menggambarkan ‘asumsi’ bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang,
baik individu maupun kelompok. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif
membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin
pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama.
Seorang pemimpin harus
mempunyai terobosan-terobosan (inovasi) yang baik untuk melakukan perubahan secara
terus menerus dalam acuan untuk menjadai lebih baik sesuai dengan perkembangan
zaman. Organisasi yang mampu secara terus menerus melakukan penciptaan
pengetahuan disebut sebagai learning organization.
b. Teori kepemimpinan dan pengaruhnya pada inovasi
Untuk mengenai
persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, dan
kemampuan. Adapun teori-teori dalam kepemimpinan adalah teori sifat, teori
perilaku dan teori situasional
c. Hubungan
Kepemimpinan dan Inovasi
Menurut pendapat kami
pemimpin dan inovasi adalah dua hal yang harus selalu beriringan. Artinya, di
mana ada pemimpin maka di sana ada inovasi dan gagasan baru sesuai kemajuan
zaman.
d. Perilaku pemimpin
mempengaruhi perilaku inovatif
Pendekatan perilaku
kepemimpinan memusatkan perhatiannya pada dua aspek yaitu (a) fungsi-fungsi
kepemimpinan, dan (b) gaya-gaya kepemimpinan. Adapun gaya-gaya
kepemimpinan tersebut adalah otoriter, demokrasi dan Laissez Fair.perilaku
seorang pemimpin akan mempengaruhi segala inovasi atau terobosan yang ssudah
direncanakan. Suatu Inovasi akan berjalan dengan lancar tergantung pada
bagaimana perilaku sang pemimpin.
B. Saran
:
Bertolak dari uraian
diatas, maka selanjutnya dapat disimpulkan saran-saran sebagai berikut :
Reformasi
Birokrasi mengubah wajah pelayanan publik dari konvensional menjadi service
excellent. Paradigma masa lalu tentang pelayanan publik yang buruk, mau tidak
mau harus berubah. Masyarakat saat ini adalah masyarakat yang pintar, kritis
dan menginginkan perubahan terkait layanan publik. Sistem Layanan Publik yang
Jelas biayanya, jangka waktunya, tranparansi, juga layanan inovasi yang
memberikan kemudahan adalah harapan terbesar dari masyarakat. PNS/ ASN sebagai
pelaksana pelayanan publik dituntut memberikan kerja baik. Perubahan
Organisasi, struktur, juga paradigma
yang ditunjang dengan regulasi (peraturan) menjadi acuan PNS/ASN untuk
melaksanakan kinerjanya.
Daftar Pustaka :
- Sondang P. Siagian (1994:129)
Comments
Post a Comment